Jumat, 10 Oktober 2008

Resesi Dunia dan Turunnya Harga TBS

Kehidupan selalu beredar pada siklus yang tak jauh dengan masa lalunya. Dan, seakan tak pernah bosan, siklus resesi ekonomi yang terjadi pada 1998 silam, nampaknya berulang di tahun 2008. Padahal, rasa pedih dan letih akibat hancurnya ekonomi yang juga ditandai dengan pergantian pimpinan negara di Indonesia, masih terasa. Ketika itu, semua orang mengetatkan ikat pinggang. Jutaan orang harus kehilangan pekerjaan. Sekian banyak yang sebelumnya konglomerat terjun bebas jadi melarat.

Kini, getaran resesi ekonomi dunia menghantam kembali. Bermula dengan kenaikan harga minyak dunia, berimbas pada krisis 3 F; food (pangan), fuel (energi), dan financial (financial), dan akhirnya membuat pasar modal di Amerika Serikat (AS) terkoyak. Episentrum mimpi buruk ini masih berada di AS. Walau pemerintahan AS sudah mengucurkan dana talangan (bailouts) sebesar 700 miliar dolar AS, pasar saham negeri Paman Sam itu tetap juga belum membaik.


Di Indonesia, getaran gempa ekonomi itu juga sudah sangat terasa. Paling tidak itu terbukti pada Rabu (8/10), untuk pertama kalinya dalam sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) stop jual-beli saham di tengah jalan, sekitar pukul 11.08 JATS (Jakarta Automated Trading System). Ini karena penurunan harga dinilai sudah tidak wajar. Saat disuspen, IHSG anjlok 168,52 poin (10,38 persen) ke titik 1.451,669 dengan nilai transaksi hanya Rp952,165 miliar. Itu merupakan indeks terendah sejak September 2006.

Di tengah carut-marut perekonomian itu, tiba-tiba datang berita yang tak kalah hebohnya dari Riau. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terjun bebas. Dari angka mencapai Rp2.000 per kilogram, kini bahkan sempat menyentuh angka Rp300 per kilogramnya. Atau, terjadi penurunan harga 700 persen. Harga karet yang sempat menyentuh angka Rp14.000 per kilogramnya, kini bisa turun hingga ke angka Rp6.000 sampai Rp7.000 per kilogram. Atau turun sekitar dua kali lipat.

Penurunan drastis ini sangat berpengaruh besar bagi masyarakat petani. Karena, bila selama ini sebagian mereka mampu menghasilkan uang hingga Rp4 juta per bulan untuk satu kapling kebun sawit, kini hanya menerima Rp700 sampai Rp800 ribu. Padahal, keperluan hidup mereka dalam beberapa tahun belakangan ini sudah disetel di angka pendapatan Rp4 juta per kapling sawit.

Pertanyaan yang kini benar-benar membuat penasaran petani adalah, apakah benar penurunan harga TBS dan karet itu disebabkan permulaan resesi ekonomi dunia?
Kalau berkaca dari analisa pengamat ekonomi Prof Dr Detri Karya SE MA, penurunan harga itu lebih disebabkan pembebanan biaya produksi perkebunan besar kepada petani kecil yang dilakukan konglomerat yang menguasai industri hilir. Kenaikan biaya produksi mereka akibat kenaikan harga minyak, dibebankan kepada petani. Para konglomerat itu tak mau mengurangi pendapatannya.

Kalau begitu, sebenarnya tak ada hubungan antara guncangan resesi dunia dengan harga TBS. Lagi pula, penurunan drastis harga TBS itu juga disebabkan infrastruktur yang buruk, jalanan yang tidak bisa dilalui, dan pungutan liar di tengah jalan.
Kalau memang resesi dunia itu belum terasa di tengah masyarakat petani, harusnya pemerintah mengulurkan tangannya untuk membantu petani, dan di sisi lain memperingatkan (bisa juga menjewer) konglomerat yang nakal.

Harus ada kebijakan khusus untuk menyelamatkan para petani tersebut.***

Selengkapnya...

Selasa, 06 Mei 2008

Sensasi Iyeth Bustami

Tiba-tiba, Iyeth Bustami membuat kejutan. Penyanyi dangdut asal Riau ini, menyatakan siap maju sebagai bakal calon gubernur atau wakil gubernur Riau dalam Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) 2008. Orang-orang menebak, ’’kenekatan’’ Iyeth ini pasti terinspirasi dari kisah sukses rekan-rekan artisnya yang lain semisal Rano Karno, Dede Yusuf, dan kini menyusul si duda keren (duren) pedangdut Saiful Jamil.

Seriuskah Iyeth? Orang banyak melihat langkah ini sebatas sensasi. Bagaimanapun, sebagai artis Iyeth memang sensasional. Peraih berbagai penghargaan di bidang musik ini, memang sering membuat berita besar. Mulai dari lagunya yang meledak di pasaran, digugat karena dianggap menjiplak, menikah sirri, memiliki kedekatan khusus dengan seorang atau beberapa orang petinggi di Riau, kepemilikan rumah seharga Rp4 miliar di kawasan elite Jakarta, dan lain sebagainya.

Seriuskah orang lain menanggapi Iyeth? Ini yang lebih sensasional. Ternyata, figur Iyeth langsung mendapat tempat untuk dibicarakan. Bahkan, beberapa partai sedang menjajaki kedalaman lubuk hati dan akal budi Iyeth. Bukan hanya partai kecil, tapi juga partai besar. Salah satunya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang beberapa bulan terakhir tampil jumawa dan membelalakkan mata dalam beberapa pilkada. Sosok Iyeth dianggap mampu merepresentasikan kalangan muda, kawasan Riau pesisir, dan tentu saja akan mampu mendulang suara.


Beberapa politisi dan orang-orang yang disebut-sebut akan maju sebagai gubernur atau wakil gubernur, ternyata juga memberi respon positif. Salah satunya Chaidir, Ketua DPRD Riau, yang disebut-sebut sebagai calon yang diperhitungkan. Dia siap berduet dengan Iyeth di panggung politik, tapi tidak di panggung artis.

Saya mengenali Iyeth saat bertugas sebagai wartawan di Jakarta, tahun 2003 lalu. Beberapa kali kami melakukan komunikasi intensif, terutama tentang dunia kesenian. Sebagai sesama seniman kami beberapa kali curhat, bahkan merencanakan beberapa konsep di bidang kesenian. Saya sangat senang mengenalnya, karena Iyeth ternyata tidak menjadi orang Jakarta, meskipun tinggal di Jakarta. Perempuan hitam manis dan terkadang tampil metropolis ini, tetap tidak melupakan gaya hidup dan bahasa Melayu Bengkalis, Negeri Junjungan tempat dia berasal.

Dalam beberapa kali komunikasi itu, bila bicara soal politik dan kehidupan sosial, Iyeth nampaknya lebih banyak bercerita tentang kekecewaannya terhadap beberapa orang. Walaupun tak dapat disangkal ada beberapa manuver yang dilakukannya, tapi tetap saja bukan sebuah langkah politik praktis. Politik rajuk dan merunduk di bawah bayang-bayang orang lain, sangat jelas terasa. Mungkin ini bagian dari sublimasi kekecewaan dan ketidakberdayaanya selama ini. Coba saja selami kedalaman lirik lagu Ijuk yang dibanggakannya ketimbang Laksamana Raja di Laut yang fenomenal itu: Kau kusangka bulan, sayang/yang dapat kugenggam sayang/rupanya kau bintang yang jauh/tak mungkin dapat kusentuh...

Kalau nanti Iyeth benar-benar ikut bursa, tentu saja ini kejutan lain Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) 2008. Ini juga berarti menyuburkan tren seorang artis di ajang pemilihan kepala daerah. Di balik itu, kehadiran Iyeth juga akan memberi api baru yang akan menghangatkan dan memanaskan bakal calon lainnya. Karena bagaimanapun, milestone politik Riau juga pernah diwarnai dengan manuver Iyeth beberapa waktu lalu. Bukankah dari beberapa penggal lagu Ijuk di atas terlihat jelas nuansa rajuk, putus asa, sekaligus bibit dendam di sana?

Panggung politik memang tak jauh beda dengan panggung seni. Ada perjuangan di sana. Ada air mata, gelak tawa, hidden agenda, siasat, bibit ’’kesumat’’. Di panggung seni, Iyeth sudah membuktikan kapasitas dan kapabilitasnya melakoni itu semua. Di panggung politik, nampaknya Iyeth coba mencari sekaligus mengaktualisasikan jati diri.***

Selengkapnya...

Selasa, 11 Maret 2008

Temberang Dr M dan Pemilu 2008 Malaysia

Malaysia berubah. Garis kebijakan nampaknya bakal bergeser dari titik koordinat lama. Ini tak terlepas dari hasil pemilihan raya (Pemilu) yang diadakan Sabtu (8/3) lalu. Bagaimana tidak, Barisan Nasional yang selama ini selalu mendominasi, bahkan selalu mendapatkan 2/3 suara kongres, ternyata pada pemilihan kali ini ”jatuh tapai”. Sebaliknya, partai oposisi menang besar.

Sesungguhnya, Barisan Nasional tetap menang. Mereka belum terkalahkah sejak didirikan 1 Juli 1974 lalu. Hanya saja, Pemilu 2008 ini adalah yang terburuk dalam sejarah pencapaian mereka. Indikasinya, bila Pemilu 2004 mereka berhasil menguasai 199 kursi dari 219 kursi, atau lebih dari 2/3 dari total kursi yang diperebutkan, maka pada Pemilu 2008 ini, mereka hanya meraih 140 kursi dari total 222 kursi yang diperebutkan. Sedangkan partai-partai oposisi justru melakukan lompatan besar. Jika tahun 2004 mereka hanya mendapat 20 kursi, maka di tahun 2008 mereka langsung meraup 82 kursi.



Bagi Barisan Nasional, Pemilu 2008 ini menjadi pukulan telak yang sangat memalukan. Ini tentu saja tidak terlepas dari gegabahnya Barisan Nasional dan progresifnya oposisi. Seperti diketahui, pelaksanaan Pemilu kali ini pun terkesan agak dipercepat. Apalagi setelah timbul ketegangan, demonstrasi besar-besaran, harga-harga yang meroket, dan stabilitas yang tidak terjaga. Pernyataan Badawi yang rasial dan melecehkan salah satu etnis di Malaysia, menjadi pemicu letup gelombang instabilitas itu. Pemimpin Barisan Nasional yang juga PM Malaysia itu juga dianggap paling bertanggung jawab.

Barisan Nasional memang cerita miris di Malaysia saat ini. Para petinggi Barisan Nasional, terutama Mahathir Mohammad yang dinilai sukses 22 tahun memimpinnya, jadi temberang. Dia menuding dan memaksa Pak Lah, pangilan Abdullah Ahmad Badawi, bertanggung jawab 100 persen. Mahathir juga merasa bersalah dan terbawa dalam rasa sedih mendalam karena menunjuk Pak Lah, bukan yang lain.

Rasa bersalah itu memang sudah datang terlambat. Ketika Dr M, julukan Mahathir Mohammad menyerahkan estafet United Malay Nation Organisation (UMNO), motor utama penggerak Barisan Nasional kepada Pak Lah, hampir semua orang merasa pesimistis. Mengapa tidak kepada Najib Razak, yang dikenal lebih piawai dan disegani? Mengapa harus kepada Pak Lah yang dikenal terlalu santun dan tidak tegas?

Sebenarnya kalau dirunut ke belakang, rasa bersalah Dr M itu bisa berpangkal pula kepada keputusannya untuk menawan, mempermalukan, dan menghukum Anwar Ibrahim; orang yang paling dipercayanya sebelum Pak Lah dan Najib Razak. Keputusannya menghukum Anwar ini pula yang menjadi bumerang bagi UMNO, dan tentu saja Barisan Nasional. Bukankah hasil sangat positif yang diraih oposisi di Pemilu 2008 ini berkat terzalimnya Anwar Ibrahim? Bukankah perjuangan militan Anwar, rasa tak menyerah Wan Azizah, dan pesona mendalam Nurul Izzah, telah menjadi cahaya yang menerangi hati pemilih Malaysia tentang betapa rapuhnya Barisan Nasional?

Kini, Malaysia memang sudah menjalani takdirnya. Barisan Nasional dipungkang dari segala arah, menuai malu luar biasa. Oposisi kini bersorak gembira karena suara mereka sudah didengar rakyat Malaysia. Kita tunggu saja, seperti apa Malaysia setelah berubah. Apakah masih akan menjadi negara yang penuh pesona dan salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara?***

Selengkapnya...

Senin, 03 Maret 2008

Ironi Urip Tri Gunawan

Wajah Jaksa Agung Hendarman Supandji tampak murung. Wajahnya berkaca-kaca. Dari tirus wajahnya terlihat betapa dia sangat kecewa. Bagaimana tidak, di tengah semangatnya yang membara memberantas korupsi di Indonesia, di saat itu pula salah satu anggota timnya yang diduga kuat melakukan praktik korupsi. Tentu saja ini tamparan yang paling keras bagi mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. Anak buahnya sudah membuat aib dan membuat malu tidak kepalang tanggung.

Adalah Urip Tri Gunawan, jaksa yang ditugasi sebagai Koordinator Jaksa Penyelidik Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) yang membuat ulah. Jaksa yang bertugas di Keja­gung ini ditang­kap Komisi Pemberantasan Ko­rup­si (KPK), Ahad (2/3). Dia tertang­kap basah bersama barang bukti berupa uang senilai 600 ribu dolar AS (setara Rp5,4 miliar, kurs 1 dolar AS = Rp9.000). Dia dipergoki se­da­ng menerima suap dari seseorang berinisial AS yang diduga terkait penghentian penyeli­dikan kasus BLBI di Gedung Bundar, Kejak­saan Agung (Kejagung).



Tertangkapnya Urip akan menjadi bau busuk yang menghilangkan selera makan orang lurus di Indonesia. Di saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nyaris didaulat sebagai pemerintahan yang paling jumawa memberantas korupsi, di saat itu pula seorang pemberantas korupsi diduga kuat telah melakukan korupsi. Padahal, sesuai laporan Kejagung, Urip adalah salah satu dari 35 jaksa daerah terbaik di Indonesia dan pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri di Klu­ngkung, Bali. Kalau jaksa terbaiknya saja bisa bermain seperti ini, bagaimana pula dengan ribuan oknum jaksa yang dikenal nakal dan melakukan praktik dagang sapi peradilan?

Masyarakat memang penuh harap dengan tim pemberantas korupsi di Indonesia saat ini. Jaksa, apalagi Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah pihak yang sangat ditakuti, sekaligus pulau harapan atas mandulnya proses korupsi selama ini. Karena kepercayaan dan pengharapan itu pula, penegak hukum seperti Urip selalu dikaitkan dengan kepercayaan. Mungkin, harapan itu terlalu berlebihan. Indonesia memerlukan seseorang yang bersih, suci tanpa noda. Orang-orang seperti malaikat yang mampu menegakkan hukum dan berani melawan kekerasan, tekanan, ancaman, dan juga sogokan.

Dan, ternyata Urip bukan malaikat. Bukan orang yang pantas untuk kedudukan itu. Kalau dia bisa jumawa menyeret penjahat ke meja hijau, melawan tekanan dan ancaman dari penjahat kerah putih, ternyata di tak cukup kuat menolak sogokan. Apalagi jumlahnya mencapai Rp5,4 miliar. Sebuah bilangan yang belum tentu sebanyak gajinya selama masa bekerja di Kejagung.

Uang memang membuat semua orang gelap mata. Uang juga pangkal musibah. Orang baik bisa menjadi buruk karena uang. Orang bersih bisa menjadi ternoda dan terhina karena uang juga.

Kembali ke ekspresi Hendarman Supandji, nampaknya dia layak untuk terpukul, terhina, dan terbebat dalam sedih yang mendalam akibat ulah anak buahnya. Padalah, sejak awal dia sudah sampaikan kepada anggotanya, penanga­nan kasus korupsi, termasuk kasus BLBI, mirip masuk ke hutan belantara yang banyak memedi (hantu). Makanya, dia harus mencari jaksa yang tahan banting. Dan, dia sudah menemukan beberapa. Sayang, salah satu dari mereka sudah tidak tahan banting lagi. Urip telah kalah dalam gelanggang yang disediakan pemerintah. Urip terbawa dalam arus permainan tanpa mendengarkan arahan sutradara. Urip melupakan perannya, merupakan ketokohannya. Dan, film yang disiapkan Hendarman Supandji ternoda.

’’Saya sangat kecewa. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga,’’
Kalimat itu diucapkan Hendarman Supandji terbata-bata. Dia sesenggukan. Dia terbawa dalam sedih yang mendalam.

Memang, Hendarman pantas kecewa. Masyarakat Indonesia juga pantas kecewa. Ini adalah pembelajaran bagi kita; bahwa penjahat kerah putih masih terlalu berkuasa.***

Selengkapnya...

Kamis, 28 Februari 2008

’’Belah Dada Saya, Disana Ada Sejuta Burung Garuda’’

Berkunjung ke Pulau Terluar, Menjelang HUT Ke-61 Indonesia
’’Belah Dada Saya, Disana Ada Sejuta Burung Garuda’’

Menjelang HUT ke-61 kemerdekaan Indonesia, rasa nasionalisme kembali diuji. Masihkah burung garuda terbang rendah dan singgah di hati penghuni bumi Indonesia?

Laporan SAIDUL TOMBANG, Rupat
saidultombang@riaupos.com

Pantai Rupat, Kamis (10/8) petang. Pasir pantai membentang panjang. Putih, bersih, dan dipenuhi umang-umang. Binatang kecil itu kadang membuat konfigurasi, memerahkan sebagian bidang pantai yang landai. Berkali-kali dihempas ombak, dia tak kunjung beranjak. Dari kejauhan, ombak selatan Selat Melaka membawa angin basah; menampar-nampar wajah, menggerai-gerai mayang di kepala.



Pantai Rupat yang damai. Orangnya tak ramai. Pantai ini hanya dijejali orang ramai pada bulan Shafar saja, saat mereka melakukan ritual mandi Shafar. Selebihnya, yang ada hanya perahu nelayan yang tersadai ketika siang, burung yang terbang rendah dan mematuk umang-umang, dan selebihnya hanya sunyi.

Penduduk Rupat tak lagi ingin berandai-andai. Ya, andai di sini ada cottage, andai di sini banyak turis, andai penduduknya bisa hidup berada, andai saja mereka bisa bebas ke Malaysia, andai pemerintah Indonesia tahu betapa pahitnya saat bertetangga dengan orang kaya. Andai saja pemerintah Indonesia memenuhi satu dari sekian jumlah janji mereka. Ya, andai saja, hmm…

’’Kami sudah muak dengan janji-janji pemerintah. Katanya ingin membangun jembatanlah, mengembangkan potensi wisatalah, bangun cottage-lah. Mana? Mana realisasinya? Sampai kini Rupat tetap saja pulau yang dipenuhi janji-janji,’’ kata Misliadi, tokoh pemuda Pulau Rupat yang sedang menyelesaikan studi magisternya di Universty Kebangsaan Malaysia (UKM).

Pantai Rupat berhadap-hadapan dengan daratan negeri Malaya. Jika beruntung, pada saat-saat tertentu warga Rupat bisa menatap perbukitan bumi Malaysia dengan mata telanjang. Jarak yang memisahkan mereka tak terlalu panjang. Tak sampai satu jam naik speed boat, atau maksimal 2,5 jam naik perahu motor pompong. Karena kedekatan itu pula, mereka seperti saudara. Bahasa hampir sama, kesukaan juga tak jauh beda. Untuk sekadar membeli daging ayam, sayur-mayur, atau sarden sekaleng, warga Rupat bisa mendapatkan dari Malaysia. Untuk rujukan berobat, membeli keperluan pesta, atau keperluan jenis apapun, Malaysia ternyata lebih praktis dan ekonomis. Maka tak heran kalau sampai saat ini mata uang Ringgit masih berlaku untuk urusan jual beli. Sepeda motor dan beragam produk made in Malaysia masuk ke Rupat tanpa harus melalui proses di bea cukai.

Berhubungan dengan Malaysia menjadi pilihan utama dibanding Indonesia. Sekadar gambaran geografis, untuk mencapai Dumai, kota tetangga yang paling maju di pantai pesisir Riau, diperlukan waktu minimal lima jam naik pompong, atau 2,5 jam naik speed boat. Padahal, untuk mencapai Melaka mereka hanya memerlukan waktu setengahnya saja.

Perhatian Indonesia
Luas Pulau Rupat tiga kali luas Provinsi DKI Jakarta. Namun penduduknya tak sampai seperseratus jumlah penduduk Jakarta. Sebelum tahun 2000, saat otonomi daerah belum diberlakukan, tak ada jalan yang disemen lebih dari dua meter, tak ada sekolah lanjutan negeri, tak ada alat komunikasi, dan listrik hidup hanya di malam hari.
Sebenarnya, sejak awal tahun 1990-an, pemerintah sudah menjadikan Rupat sebagai buah bibir. Pulau terluar Indonesia ini akan dijadikan garda terdepan untuk kemajuan. Di sana akan membentang jalan tol (highway), sebuah jembatan terpanjang di Asia Tenggara akan menghubungkan Rupat dengan Malaysia, juga Rupat dengan Sumatera. Malah, beberapa pejabat istana dan orang-orang Cendana disebut-sebut telah mengapling tanah.
Di awal otonomi daerah, Rupat kembali dininabobokan dengan potensi wisatanya. Katanya, Rupat lebih indah dari Bali, lebih bersih dari Bunaken, lebih strategis dari hampir semua pantai di Indonesia. Di sana akan dibangun cottage, sentra-sentra produksi wisata. Penduduknya akan diajari berbahasa Inggris untuk menyambut kedatangan wisatawan. Dan, sekali lagi, masyarakat Rupat dibuai dengan mimpi tentang indahnya kemajuan, dan gemerincing uang ringgit atau helaian uang dolar.
Sampai kini, Rupat masih seperti yang lalu. Tak ada perubahan signifikan di negeri penuh janji itu. Jalanan dengan lebar enam meter tak sampai tiga kilometer. Tak ada kendaraan roda empat. Di sana listrik hanya bisa hidup di malam hari. Ada beberapa sekolah negeri, namun tak dilengkapi dengan fasilitas sewajarnya.

Parahnya, masyarakat Rupat tak bisa mengenal Indonesia dengan baik, termasuk mengenali provinsinya sendiri; Riau. Mereka seperti terputus hubungan dengan provinsi dan negeri ini. Bukan mereka tak mau, tapi memang fasilitas untuk mereka tak ada. Layar televisi atau siaran radio yang masuk ke bilik-bilik rumah mereka rata-rata siaran Malaysia. Cukup dengan meletakkan antena biasa satu meter dari atap rumah, maka siaran dari enam televisi Malaysia dan Singapura, bisa dilihat di layar kaca dengan jelas. Sedangkan televisi Indonesia?
’’Di Rupat Utara yang terdiri dari 2.288 rumah, hanya 30 rumah saja yang memakai parabola. Rumah yang 30 itulah yang bisa menangkap siaran Indonesia,’’ kata Suparman S Sos, Camat Rupat Utara kepada Riau Pos, Kamis (10/8).

Karena terputusnya informasi itu pula, akhirnya Indonesia termasuk dalam daftar negara asing bagi mereka. Mereka baru bisa mengenal negeri ini melalui televisi negara tetangga. Tsunami di Aceh atau gempa di Jogja mereka ketahui dari TV3 Malaysia.

Tentu saja, karena setiap hari disodori siaran televisi Malaysia, negeri Ringgit itu begitu familiar di hati mereka. Maka tak salah, ketika di sebuah sekolah dasar di sana, seorang murid ditanya tentang siapa Presiden Indonesia, sang anak akan menjawab; ’’Presiden Indonesia Ahmad Badawi (Perdana Menteri Malaysia, red).’’
’’Jangan salahkan anak-anak kami kalau lebih mengenal Ahmad Badawi dibanding Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Karena setiap hari mereka hanya melihat Ahmad Badawi. Sedangkan Presiden SBY hanya mereka dengar sekali-sekali,’’ kata Suparman.
Karena itu pula, Suparman meminta pemerintah agar segera membangun minimal satu pemancar televisi yang akan merelay siaran televisi Indonesia. Paling tidak, ini akan mampu meredam ketidaktahuan anak-anak terhadap Indonesia.
Ketika Indonesia Raya Berkumandang

Siang itu, Kamis (10/7), di gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Kecamatan Rupat. Puluhan orang berkumpul. Di barisan depan, ada drg SW Pujiastuti. Perempuan mungil yang manis ini adalah Direktur Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Potensi Pertahanan di Departemen Pertahanan (Dephan) Indonesia. Di sampingnya duduk Said Amir Hamzah SKM, Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (Infokom) dan Kesatuan Bangsa Provinsi Riau. Di gedung yang baru dibangun itu, juga hadir camat, kepala desa, dan unsur masyarakat lainnya.

Pujiastuti memang datang mendadak pada hari itu. Ini merupakan kunjungan tidak resmi, namun sesungguhnya punya makna. Momennya pun pas; yaitu menjelang detik-detik peringatan HUT ke-61 kemerdekaan Indonesia. Paling tidak, Pujiastuti ingin mengadakan antitesis tentang rasa nasionalisme warga yang mendiami pulau terluar Indonesia itu. Apakah merah putih masih berkibar di hati mereka? Apakah burung garuda masih kekar di pemikiran warga Rupat? Apakah Indonesia masih menjadi daging dan darah yang mengalir di setiap nadi mereka?

Dan, di awal pertemuan itu sebuah rekaman dari video compact disc (VCD) diputar di gedung LAM. Lagunya? Indonesia Raya. Dengan klip yang menggambarkan betapa perlunya mencintai Indonesia; plus teks lagu yang memudahkan pembaca, lagu itu pun dimulai. Indonesia tanah airku/tanah tumpah darahaku/di sanalah aku berdiri/jadi pandu ibuku/…
Ada Melayu di sana. Ada suku akit, suku Jawa, Batak, Minang, dan beberapa ras lainnya. Ketika mengumandangkan Indonesia Raya, semua kompak. Hampir tak ada yang salah melafalkan. Bibir mereka bergetar, mungkin karena sudah terlalu lama tidak menyanyikan lagu itu. Rasa heroik dan patriotic mereka sedemikian emosional sehingga ruangan itu penuh dengan gempita.

Pujiastuti memang seorang nasionalis sejati. Sebagai orang penting di Dephan, dia memang sangat berharap kepada masyarakat Rupat, dan masyarakat lainnya yang mendiami pulau-pulau terluar Indonesia.

’’Mereka adalah ujung tombak pertahanan dan keamanan bangsa. Mereka adalah jendela Indonesia menuju negara tetangga,’’ kata Puji.

Sesuai dengan laporan Camat Suparman, dan unsur masyarakat lainnya, memang sangat berat menjadi orang yang tinggal di perbatasan; apalagi ketika harus bertetangga dengan orang yang sudah hidup jaya. Namun, menurut Pujiastuti, di sinilah rasa nasionalisme diuji. Ketika dulu memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, para pejuang juga mengalami masa-masa sulit.

Sama halnya dengan Puji. Said Amir Hamzah juga punya pendapat serupa. Sebagai anak jati pulau Rupat, Said memberikan semangat agar masyarakat tetap mencintai Indonesia. Kalaupun saat ini pembangunan di sana berjalan lamban, paling tidak pemerintah sudah memberikan perhatian lebih kepada mereka saat ini.
’’Saya tidak ragu dengan kesetiaan masyarakat Rupat terhadap Indonesia. Namun soal pembangunan harus digesa, saya rasa itu adalah hal yang sebenarnya,’’ kata Said.
Lihatlah, Ada Sejuta Garuda!

Soal kesetiaan pada negara Indonesia dan semangat bela negara, kembali disampaikan Pujiastuti saat bertemu dengan puluhan pemuka masyarakat Dumai dan Rupat Selatan, plus Wakil Wali Kota Dumai dr Sunaryo di Dumai, Kamis (10/8) malam. Di sini, harapan Pujiastuti ditanggapi serius oleh masyarakat dan pemuka.
Setidaknya, 15 ketua suku di Dumai hadir dalam kesempatan itu. Hampir semuanya berpendapat senada. Namun jawaban dari Timo Kipda, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Dumai nampaknya bisa merangkum itu semua.

’’Jangan ragukan kesetiaan kami kepada negara ini. Walaupun sejak puluhan tahun lalu kami mendengarkan siaran dari radio Malaysia dengan film-film P Ramlee, namun Indonesia masih menjadi darah daging kami. Belahlah dada saya, di sana akan ditemukan sejuta burung garuda,’’ katanya heroik.

Burung garuda memang menjadi lambang bangsa, salah satu identitas Indonesia. Timo tahu betul bahwa masyarakat pesisir dan orang yang berdiam di pulau terluar Indonesia sangat setia terhadap Indonesia. Walaupun setiap hari mereka berhubungan dengan orang kaya di Malaysia dan Singapura, namun di darah mereka masih mengalir semangat cinta Indonesia. Walaupun, ya walaupun Indonesia sudah teramat sering melupakan mereka.***

Selengkapnya...

Senin, 18 Februari 2008

Catatan Akhir Pekan

Manai

Orang kampung, dulu, suka membaca surat Yaasin. Baik bila ada kenduri atau takziah. Tapi ada juga yang membaca Yaasin untuk men-doakan sesuatu. Salah satu yang terkenal saat itu adalah doa agar seorang zhalim terkena manai. Biasanya masyarakat berkumpul, minimal 40 orang, baca Yaasin sama-sama, lakukan salat hajat, dan berdoa agar si zhalim itu terkena manai.Manai? Dia sebentuk penyakit seperti gerombolan anai-anai yang menggirik isi munggu. Dari luar, gundukan tanah itu tambah besar dan terlihat seperti keras.


Padahal, isi dalamnya sudah berongga, dan melompong karena digerogoti anai-anai. Perut orang zhalim yang dibacakan Yaasin juga seperti itu; mem-besar, berkaca-kaca, keras, ususnya melilit, darah menjadi nanah, dan suatu saat bisa meletus!Mengapa dia terkena manai? Biasanya hukuman itu diberikan kepada orang-orang zhalim yang tak mau mengaku atas per-buatannya. Umpamanya, masyarakat mene-mukan harta anak yatim tiba-tiba hilang atau dikorupsi, harta soko dijual tanpa sepengetahuan mamak soko, atau milik masyarakat umum tiba-tiba tidak diketahui lesapnya di mana. Kalau tak ada yang mau mengaku, diambil kesimpulan secara aklamasi untuk melakukan sumpah manai tersebut.



Biasanya, sebelum sumpah manai dilakukan, si pelaku bakal mengaku.Sekarang, banyak orang memakan barang yang bukan haknya. Sebagian mereka masih menggunakan metode ancient, yaitu mema-kannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi sebagian besar malah memakannya secara terang-terangan. Bukan melakukan korupsi di bawah meja, tapi mengorupsi uang bersama mejanya sekaligus. Kadang-kadang terkesan legal dan sesuai hukum, padahal tak lebih dari seorang pencuri, tepatnya perampok.Kita bisa melihat, bulan-bulan terakhir pihak penyidik, baik dari kejaksaan, Komisi Pem-berantasan Korupsi (KPK), dan kepolisian, berlomba melakukan pemeriksaan terhadap penggerus uang yang bukan miliknya. Ribuan triliun uang negara yang nota benenya uang rakyat, harus lebur di perut orang-orang yang harusnya disumpah manai.

Ternyata, walau setiap hari pihak penyidik melakukan peme-riksaan, tampaknya jumlah orang-orang yang layak disumpah manai semakin banyak saja. Seakan tak habis-habis.Indonesia memang negeri teruk. Jumlah utang menumpuk. Orang-orang yang mengambil keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang banyak, berderet-deret sepanjang tali beruk. Mulai kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), sampai kasus-kasus kecil seperti pengadaan tali beruk. Kasus manai ini seperti sarang anai-anai, berkamar-kamar, kecil-kecil, dan sulit dicari di mana ujungnya karena dia mirip sebuah labirin prisma.Manajemen keuangan Indonesia memang perlu belajar dari manajemen keuangan masjid.

Uang serupiah pun, dihitung, dicatat, dan dipampangkan secara lugas. Setiap Jumat diumumkan, berapa uang masuk, berapa pula uang keluar. Beli satu gayung pun disebutkan. Dapat derma lima ratus rupiah pun disampaikan. Di sinilah peran akuntan pubik benar-benar bejalan. Karena, yang menjadi akuntan benar-benar dari publik; orang banyak. Bukan akuntan publik yang bisa dibayar!Andai saja, keuangan Indonesia dijalankan dengan lugas dan jelas seperti manajemen keuangan masjid, tentu saja persoalan moneter bangsa tidak akan seperti ini. Karena, di tengah publik, siapa saja yang tidak mau mengaku memakan harta yang bukan miliknya, bisa disumpah. Sumpah manai. Perut membengkak, berkaca-kaca, mengeras, usus membelit, darah menjadi nanah, dan suatu saat akan meletus.Adakah obligor yang mampu menahan penyakit manai?***

Selengkapnya...

Jumat, 08 Februari 2008

tajuk

Kehadiran JK di Negeri Kepala Naga

Dulu, Riau bangga mempunyai Batam. Pulau kecil yang kini sudah menjadi bagian wilayah Provinsi Kepulauan Riau itu, digadang-gadang bakal mengikuti jejak Singapura; menjadi kota rujukan dunia, tempat kemajuan dan kemakmuran bermuara.
Sebelumnya, negeri itu hanyalah pulau dengan penduduk pribumi yang bangga dengan hasil melautnya. Lalu, untuk menyulapnya agar bisa menjadi Singapura, pemerintah membentuk sebuah badan khusus yang kemudian diberi nama Otorita Batam (OB), penguasa tunggal yang menentukan hitam-putihnya sebuah kebijakan di sana.
Sayang, walau OB sudah jadi penguasa tunggal sejak 1971, Batam tetap tak mampu mengejar Singapura. Jangankan mengalahkan, berjalan sejajar pun tidak. Sampai sekarang, mimpi menjadi kota maju masih dalam batas angan-angan yang tak sampai.
Kemudian, setelah Batam menjadi bagian Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Riau pun coba mencari alternatif kota yang akan disulap menjadi kota maju. Tentu saja letak geografis dan kedekatan dengan akses dunia internasional menjadi pertimbangan utama. Dari sekian banyak wilayah yang dipersiapkan, Dumai dianggap paling potensial. Letaknya paling berhadap-hadapan dengan jalur pelayaran internasional; Selat Melaka. Infrastruktur berupa pelabuhan juga sudah tersedia, walaupun harus dilakukan pembenahan di sana-sini. Kota nelayan sebelum tahun 1950-an ini, juga memiliki sejumlah perusahaan multinasional dan kawasan industri. Dapat dikata, Dumai adalah kepala naga Sumatera. Kawasan paling potensial di Riau.
Tapi, membandingkan Dumai dengan Singapura, atau beberapa negara lainnya, tentu seperti membandingkan David dengan Golliath, bagai mengadu mentimun dengan durian. Untuk menjadikannya kawasan Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) masih diganjal oleh kekurangan fasilitas di sana-sini. Jalan akses ke berbagai wilayah industru saja, seperti ke Pelintung, masih jauh dari kalimat layak.
Pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah bagaimana mungkin Riau bisa menyulap Dumai menjadi sebuah kawasan yang disegani serta bertaraf internasional, sementara kebijakan ke arah itu masih setengah-setengah. Tidak diikuti dengan aksi nyata dan monumental. Padahal, dengan kondisi Dumai yang masih seperti itu, perlu tindakan sporadis. Penganggaran infrastruktur tidak bisa hanya mengharapkan APBD Provinsi Riau, apalagi APBD Kota Dumai saja. Bisa lapuk pelabuhan tu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) belum juga akan terujud. Pemerintah Pusat harus ikut memikirkan dan mengucurkan dananya untuk kawasan itu. Kalau untuk pembangunan Otorita Batam pemerintah bisa bertindak sporadis (walau ternyata masih tidak berhasil), maka untuk pembangunan Dumai juga harus sporadis. Bahkan harus lebih sporadis.
Kamis (7/2), Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla berkunjung ke Dumai. Dia diterima langsung Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Wali Kota Dumai Zulkifli As, serta berbagai unsur penting lainnya. Bersama Wapres juga ikut sejumlah Menteri Kabinet.
Apa komentar pria berkumis yang akrab disapa JK ini? Menjadikan Dumai sebagai kawasan ekonomi khusus itu mudah. Tapi, saat ini Dumai belum siap. ’’Perbaiki infrastrukturnya,’’ katanya.
Soal kekuarangan infrastruktur ini, semua orang sudah tahu. Tapi, selama ini pemerintah provinsi dan kota masih belum mampu (atau tak mau?). Maka mau tak mau, pemerintah pusat harus turun langsung. Bukan hanya meninjau, tapi juga mencurahkan dana dalam jumlah banyak.
Sekarang, Dumai menunggu keseriusan Pemerintah Pusat untuk mengucurkan dana. Seperti janji JK di depan masyarakat Riau, Pusat akan membantu pendanaan untuk pembangunan Dumai.
Kita tunggu janji itu…***

Selengkapnya...

Selasa, 05 Februari 2008

seniman perdana

Anugerah Seni DKR,
Cemeti Lecut Seniman


Awal Februari ini, Dewan Kesenian Riau (DKR) kembali memberikan apresiasi kepada seniman berupa gelar Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negeri (SPN). Seniman Perdana adalah seniman utama; orang yang dianggap paling gemilang dalam berkarya serta menunjukkan dedikasi dan kapabilitas tinggi. Sedangkan Seniman Pemangku Negeri, diambil dari lima percabangan seni. Sastra, tari, seni rupa, teater, dan musik.
Tahun ini, penerima SP adalah Rida K Liamsi. Seniman yang mengawali karirnya sebagai guru kemudian menjadi wartawan dan akhirnya berlabuh sebagai pengusaha ini, dianggap tim dewan juri layak menyandang gelar SP di depan namanya. Rida K Liamsi, selain sudah menekuni dunia sastra, khususnya menulis dan membaca puisi, juga terbilang sangat tunak dalam mendedikasikan dirinya dalam berkarya. Salah satu karyanya yang paling monumental adalah novel Bulang Cahaya yang mendapat respon positif tidak hanya di Riau, tapi juga merambah ke seantero Indonesia.
Sedangkan peraih Seniman Pemangku Negeri untuk cabang sastra adalah Fakhrunnas MA Jabbar, sastrawan yang terus menghasilkan ratusan karya di tengah kesibukannya sebagai Deputy Director di PT Riaupulp. Untuk cabang seni rupa diberikan kepada Masteven Romus, seniman seni rupa yang sudah menghasilkan sejumlah karya dan membentangkannya di banyak negara. Sedangkan untuk cabang musik, anugerah diberikan kepada Arman Rambah musik, arranger musik yang sangat tunak dengan karya-karya Melayu yang sangat kental.
Yang patut mendapat catatan khusus, tahun ini Anugerah Seni tidak diberikan kepada dua cabang seni, yaitu teater dan tari. Dewan juri yang dipimpin Dr Yusmar Yusuf MPsi, sekretaris Kazzaini Ks, dan anggota drh Chaidir MM, Prof Dr Ashaluddin Jalil MS, SP Taufik Ikram Jamil, SPN Iwan Irawan Permadi, dan Tien Marni, ini menilai untuk tahun kedua cabang tersebut belum menemukan seniman yang dinilai benar-benar layak untuk menerimanya.
Penerima anugerah berhak atas pencantuman gelar SP atau SPN di depan namanya. Selain itu, kepada mereka juga diberikan hadiah. Jumlahnya terbilang besar untuk ukuran penghargaan serupa. Untuk Seniman Perdana mendapatkan Rp75 juta, sedangkan Seniman Pemangku Negeri mendapatkan Rp25 juta. Beberapa seniman yang pernah meraih gelar ini adalah SP Sutardji Calzoum Bahri, SP Hasan Junus, SP Taufik Ikram Jamil, SPN Marhalim Zaini, SPN GP Ade Darmawi, dan sejumlah nama lainnya.
Pemberian Anugerah Seni ini tentu saja menarik disimak. Pertama, ini adalah pemberian anugerah yang mampu bertahan sampai usianya yang keempat. Pertahanan ini bisa dilakukan karena di-back up dengan baik oleh banyak pihak, terutama pendanaan dari pemerintah. Kedua, hadiah yang diberikan terbilang cukup besar, walaupun harus diakui, jumlah itu masih sangat tidak layak untuk menilai jasa dan karya seorang seniman. Seperti diketahui, seniman memang tidak mampu membuat jembatan, membangun pabrik, membuat perusahaan, namun seniman mampu membangun jiwa sang pembuat jembatan, sang pembangun pabrik, dan lainnya. Tak bisa dibayangkan, jika yang bekerja di pabrik, mengatur perusahan, atau memimpin negara adalah orang yang tidak punya jiwa seni, tentulah semua akan menjadi kering tak bermaya.
Ketiga, ternyata tahun ini, dua percabangan seni, yaitu tari dan teater, tidak menempatkan perwakilannya. Ini harus menjadi catatan penting bagi seluruh seniman di dua cabang ini untuk kembali memompa semangat dan meningkatkan kualitas karya. Walaupun anugerah bukan akhir dan tujuan sebuah karya, namun anugerah juga bisa dijadikan acuan berkarya atau tidak, berkualitas atau tidak, diakui atau tidak, oleh pihak lain.
Anugerah Seni DKR ini memang layak dipertahankan. Walau harus diakui, ada beberapa kekurangan yang harus dibenahi. Ya, seperti jumlah hadiah yang dinilai masih kurang layak untuk memberi apresiasi kepada seniman. Apalagi, sejak diluncurkan pertama kali, jumlah hadiah itu tidak bertambah sampai sekarang. Saatnya, seniman mendapat penghargaan yang semakin layak.***

Selengkapnya...

Selasa, 29 Januari 2008

KH Bachtiar Daud Meninggal

KH Bachtiar Daud Berpulang ke Rahmatullah

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau KH Bachtiar Daud, meninggal dunia pada Selasa (29/1) sekitar pukul 17.30 WIB. Buya kharismatik yang juga pimpinan Pondok Pesantren Islamic Center Alhidayah Kampar ini, wafat di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta setelah berjuang melawan penyakit jantung akut yang dideritanya.
Malam tadi, almarhum masih disemayamkan di Mess Pemda Riau, kawasan Slipi, Jakarta. Menurut rencana, almarhum akan dibawa ke Pekanbaru pagi ini, Rabu (30/1) pukul 07.00 WIB, dan langsung dibawa ke tempat kediamannya di Jalan Pekanbaru-Bangkinang Km 40 Kampar.
Menurut Bupati Kampar Drs H Burhanuddin MM kepada Riau Pos, malam tadi, Gubernur Riau HM Rusli Zainal dan pejabat Pemprov Riau beserta Bupati Kampar akan menanti kehadiran almarhum di Bandara Sultan Syarif Kasim, begitu juga dengan pengurus Masjid Agung Annur.
Buya, demikian almarhum biasa dipanggil, sempat dirawat selama enam hari Rumah Sakit Awal Bross Pekanbaru. Namun karena kondisi kesehatannya semakin menurun, bahkan tidak sadarkan diri, pihak keluarga berinisiatif membawa almarhum ke RS Harapan Kita Jakarta. Namun sayang, hanya lebih kurang satu jam lamanya dalam perawatan dokter di RS Harapan Kita Jakarta, Imam Besar Masjid Agung Annur ini mengembuskan nafas terakhir.
Berpulangnya salah seorang putra terbaik Riau ini, tentu saja menimbulkan duka yang mendalam. Gubernur Riau HM Rusli Zainal mengatakan bahwa Riau kehilangan putera terbaik atas wafatnya KH Bachtiar Daud. Beliau tidak hanya dikenal sebagai tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidik, akan tetapi juga seorang tokoh politik yang cukup piawai dalam melakukan aktivitas politik guna membangun Riau ke arah yang lebih baik.
Dia berhasil mengkombinasikan dunia perpolitikan dengan agama sehingga perpaduan antara politik dan agama itu dapat sejalan dengan baik. Kita mengharapkan semoga beliau dapat diterima di sisi Allah SWT. Bagi kita yang ditinggalkan dapat melanjutkan perjuangan beliau.
‘’Saya mengajak seluruh masyarakat Riau mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadah beliau. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat tabah menerima cobaan ini,’’ kata Gubri yang mengaku sempat berbicara terakhir kali pada Senin (28/1) di ruang ICU RS Awal Bros.
Rasa duka itu juga disampaikan Bupati Kampar Drs Burhanuddin Husein MM, ‘’Saya rasa bukan hanya saya saja yang berduka, tetapi juga seluruh masyarakat Kampar karena beliau merupakan tokoh besar dan ulama besar di Riau, kampar kehilangan putra terbaiknya,’’ ujar Bupati Burhanuddin Husein kepada Riau Pos, malam tadi.
Ungkapan duka juga disampaikan Ketua Persatuan Masyarakat Riau Jakarta Izhar Huserin, ‘’Kami atas nama masyarakat Riau di Jakarta turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya KH Bachtiar. Beliau adalah salah satu putra terbaik Riau yang punya peran besar terutama dalam menjadikan Riau agar tetap menjaga dan mempertahankan nilai-nilai islami,’’ sebut Izhar.
Ketua Komisi IV DPRD Kampar Drs H Syafrizal yang merupakan menantu almarhum, mengatakan bahwa semasa hidupnya almarhum yang dikenal sebagai Dewan Penasehat (Wanhat) DPD Partai Golkar Provinsi Riau, ini memang dikenal luas oleh berbagai masyarakat. Sebagai pendidik, dia sudah membaktikan ilmunya sejak usia belasan tahun. Mulai mendidik di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di kampung asalnya Pulau Birandang, sampai mendirikan pondok pesantren yang memiliki ribuan santri.
Di bidang keagamaan, sejak remaja Buya adalah dai dan orator yang kharismatik. Ilmu agamanya luas dan dalam. Tamatan Pondok Pesantren Candung ini, memiliki keahlian membaca kitab kuning dan menerjemahkannya dengan lancar. Maka pantas dia diberi kepercayaan sebagai Ketua MUI Riau dua periode, Imam Besar Masjid Agung Annur, penasihat keagamaan Pemprov Riau, dan sejumlah organisasi keagamaan lainnya.
Di bidang organisasi, Bachtiar Daud juga dikenal sangat aktif. Selain sebagai pengurus Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan perpolitikan. Sempat menjadi anggota MPR RI, DPRD Riau, dan sejumlah jabatan lainnya.
Kembangkan Pondok, Bina Anak Muda
Beberapa waktu terakhir sebelum sakit, almarhum pernah berpesan kepada keluarga agar meneruskan pembinaan dan pengelolaan Pondok Pesantren Islamic Centre, agar generasi penerus Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau tetap dapat menuntut ilmu agama yang dalam. Pondok yang sudah berumur 22 tahun ini, sudah menghasilkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai tempat. Ini adalah kontribusi nyata yang ditorehkan seorang Buya untuk membentuk pribadi disiplin, berilmu, beriman, dan juga berguna.
Almarhum juga sempat berpesan, apabila suatu saat dipanggil Allah SWT, maka beliau meminta untuk dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Islamic Center yang terletak di dekat kediamannya di Kampar Timur.
‘’Beliau pernah berpesan bahwa beliau ingin agar pondok tetap eksis dalam membina generasi Islami, meskipun beliau sudah wafat,’’ ucap Syafrizal kepada Riau Pos. Syafrizal mengaku saat itu dia sedang bersiap memandikan almarhum di RS Harapan Kita Jakarta.
Rumah Duka Dipenuhi Pelayat
Kabar meninggalnya Buya, menyebar dengan cepat di Kampar dan sekitarnya. Maka sejak maghrib hingga tengah malam tadi, ratusan masyarakat sudah datang melayat ke rumah duka di jalan Pekanbaru-Bangkinang Km 40. Ratusan kendaraan roda dua dan empat sudah memenuhi lapangan bola kaki di samping rumah duka.
Di dalam rumah, suasana duka sangat terasa, beberapa anggota keluarga tampak duduk bergerombol di ruangan yang luas tersebut, putra Beliau H M Abdi Lc MAg tampak mondar-mandir mempersiapkan segala sesuatunya, terlihat ia menyambut beberapa kerabat yang datang untuk mengucapkan belasungakawa, anak anaknya yang
lain juga tampak sibuk mmepersiapkan segala sesuatunya.
Sementara itu masyarakat mulai memenuhi halaman depan dan ruang belakang rumah besar itu. Termasuk jemaah Thariqat Naksabandiyah binaan almarhum.(why/eyd/rdh/g/aka/tom)

Selengkapnya...

Selasa, 15 Januari 2008

catatan lepas: blok langgak

Blok Langgak, Kembali "Menggantang Angin’’

Kesempatan emas itu berlalu begitu saja. Provinsi Riau kembali tidak dipercaya Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengelola Blok Langgak, sebentang ladang minyak yang memproduksi sekitar 500 barel per hari. Sebagai tuan atas tanah yang membentang dan minyak yang tersimpan di reservoir bumi Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu itu, Riau kembali diposisikan sebagai penonton untuk yang ketiga kalinya.
Beginilah cara Pemerintah Pusat mengisap hasil bumi Riau. Sejak beroperasi di negeri ini sebelum zaman kemerdekaan dulu, Pusat selalu bertindak sebagai tuan yang tidak mau berbagi. Berpuluh-puluh tahun mereka menjadi penguasa tunggal atas kekayaan Riau. Sampai akhirnya reformasi bergulir, dan Block Coastal Plain Pekanbaru (CPP) bisa dikelola daerah.
Seharusnya, kisah sukses pengelolaan CPP Blok bisa dilakukan untuk Blok Langgak. Bahkan, secara teori, kesempatan emas itu sudah di depan mata. Karena, masa kontrak PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) sudah berakhir 19 Januari 2006 lalu di sana. Kemudian, karena belum ditemukan operator baru, sedangkan produksi minyak tidak boleh berhenti, akhirnya kontrak dengan Chevron diperpanjang setahun lagi. Lalu, setahun lagi di tahun 2007. Dan kini bisa-bisa setahun lagi di tahun 2008.
Secara teknis dan permodalan, tak ada permasalahan dengan PT CPI. Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat ini sangat kualifaid. CPI juga sudah membuktikan diri sebagai operator ladang minyak bumi terbesar di Indonesia dengan total produksi di atas setengah juta barel per harinya.
Angka 500 barel yang diproduksi Blok Langgak memang tidak ada apa-apanya dengan angka produksi CPI secara keseluruhan. Bagi CPI, kehilangan Blok Langgak tidak akan kehilangan ranting sepatah di tengah produksinya yang banyak. Tapi, bagi Riau, angka 500 itu adalah gunung emas yang harus diraih. Dengan harga minyak yang hampir menyentuh angka 100 Dolar AS per barel dikalikan dengan 500 barel per hari dan dikalikan dengan Rp9.500 (kurs Rupiah atas dolar AS) itu berarti Rp475 juta per hari. Dalam setahun, angka itu akan membengkak menjadi Rp173.375.000.000. Lumayan fantastis!
Tapi, angka (penghasilan brutto) itu kini sudah menjadi angan-angan. Bila bercerita produksi Blok Langgak dan hasil yang dicapai, sama artinya dengan menggantang angin. Ketidakmampuan Riau menunjuk operator menjadi penyebab utama. Apakah ini murni kesalahan Pemprov, DPRD, perusahaan yang tidak kualifaid, atau ada kepentingan lain yang membawanya ke ranah politik dan kepentingan ekonomi sesat, terserahlah. Yang jelas, Riau tidak mampu memanfaatkan kesempatan ini.
Bagaimana selanjutnya?
Sudah saatnya mulai sekarang berbenah lagi. Mari kita susun kekuatan kembali untuk merebut Blok Langgak itu. Tentukan sebuah operator (perusahaan) profesional untuk mengelolanya. Dukung bersama. Perbaiki mana yang salah. Lengkapi mana yang kurang. Hilangkan kepentingan yang tidak visible. Bukankah pemerintah sudah berjanji bahwa blok itu bakal diserahkan ke Riau kalau Riau bisa menunjuk operator yang tepat.
Ingat, Blok Langgak bukan hanya soal angka Rp173.375.000.000 per tahun saja. Ini adalah persoalan marwah. Sangat tak masuk akal kalau Riau tak mampu. ***

Selengkapnya...

Minggu, 13 Januari 2008

catatan lepas: jajan sambil jalan

Wisata Baru: Jalan sambil Jajan

Pekanbaru kota gersang! Pernah dengar kalimat pedas, keras dan memojokkan itu? Jangan marah kalau memang pernah mendengarnya. Kepada saya pun, beberapa teman acap melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuat urat rabu mendidih itu.
Tapi, benarkah pernyataan itu mesti ditanggapi dengan amarah? Apakah tuduhan-tuduhan itu sepenuhnya salah? Masihkah kita sanggup mengklaim bahwa kota ini teduh, sejuk dan penuh bebungaan?
Beberapa kali saya menyempatkan diri menjamah lekuk demi lekuk wilayah kota ini. Dari sebentang jalan ke sebentang jalan lain. Dari Muara Fajar Rumbai hingga Simpang Baru Panam. Dari Sigunggung sampai Marpoyan. Dari Kulim hingga Sukajadi. Dari Tanjung Rhu hingga Gobah.
Yang saya temukan memang Jalan Riau yang gersang, Jalan Soekarno-Hatta yang dijejali truk-truk besar dan tanah timbun, Jalan Yos Sudarso yang berpanas terik, Jalan A Yani yang sumpek, Jalan Imam Munandar yang crowded, Jalan Arifin Ahmad yang bergelombang, Jalan Tuanku Tambusai yang selalu macet, Jalan Soebrantas yang semua pohon pelindungnya ditebang dan Jalan Hang Tuah yang lintang pukang.
Duh, hampir tidak saya temukan seutas jalan pun yang menyenangkan mata dan hati, apalagi mata hati. Jalanan Pekanbaru memang tidak ramah. Baik kepada pengendara roda empat, roda dua, apalagi kepada pejalan kaki.
Beberapa ruas jalan yang membuat napas agak lega, hanyalah utas Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro serta beberapa kerat ruas jalan yang tidak terlalu menonjol. Itu pun, di beberapa tempat ternyata belum diatur dengan baik. Sebut saja Jalan Sudirman mulai dari persimpangan Jalan Pangeran Hidayat sampai ke Pelita Pantai.
Lalu, dalam dua hari ini saya membaca artikel Deliarnov, dosen Unri soal gagasan tertib berlalu lintas di Riau Pos. Tulisannya bagus, bahasannya padat dan sebagian besar bercerita tentang Negeri Seberang yang intinya menyuruh Kota Bertuah berkaca ke Negeri Datuk itu.
Dari tulisan itu, satu kalimat yang bisa saya simpulkan; bahwa warga kota ini sudah merindukan jalan yang nyaman, mulus, teduh dan penuh bebungaan. Sesungguhnya kita sudah merindukan sebentang jalan yang benar-benar manusiawi. Kita juga merindukan pengguna jalan yang tertib, santun dan saling menghormati. Bahkan, kita juga ikut merindukan pejalan kaki yang hak-haknya dihargai.
Hak pejalan kaki? Ya, selama ini jalanan Pekanbaru hanya jadi ‘’hak milik’’ si empunya kendaraan. Tak ada tempat untuk pejalan kaki. Selama ini, mereka harus menerobos pedagang kaki lima, meloncati lubang-lubang terowongan sampah, dan selalu was-was bila suatu saat dicopet.
Pertanyaannya, mengapa pembangunan jalan di dalam Kota Bertuah tidak memikirkan dan mementingkan hak pejalan kaki ini? Benarkah jalan hanya untuk lalu lintas orang berkendaraan?
Saya teringat dengan sistem pedestrian di Jakarta. Di Jalan Kebon Sirih, sepanjang jalan tempat Gubernur DKI Jakarta berkantor itu, telah dibangun pedestrian yang cukup teratur. Walau tidak dimarmer seperti kebanyakan pedestrian di Kualalumpur, Malaysia, tetap saja pedestrian itu berkesan asri karena masih banyaknya pohon perindang dan bebungaan.
Di beberapa kota Malaysia, pedestrian dibangun jauh lebih baik. Di setiap sisi badan jalan, membentang panjang trotoar khusus. Dimarmer, diberi bebungaan, dan diberi berbagai aksesori serta fasilitas yang bisa dipergunakan pemakai jalan. Setiap gedung di pinggir jalan, membuat teras yang lebar, tanpa pagar. Kesannya luas dan bersahabat.
Dalam perjalan saya ke Kualalumpur akhir tahun kemarin, saya gemas melihat jalanan kota Kualalumpur yang memanjakan pejalan kakinya. Bila petang menjelang, pedestrian itu penuh dengan pejalan kaki. Ada yang memang pulang dari kantor, sekadar window shopping, dan ada pula yang mengajak si anjing kecilnya jalan-jalan sore. Kapan Pekanbaru akan seperti ini?
Pedestrian, atau trotoar atau apapun namanya, mungkin sekilas terlihat hanyalah persoalan kecil. Tapi, tahukah Anda bahwa Jakarta hampir membuat khusus Dinas Trotoar hanya karena sistem pedestrian mereka yang tidak tertata dari awal? Bukankah Malaysia juga dapat mendatangkan devisa dari sektor belanja dan wisata karena didukung sistem lalu lintas dan pedestrian yang bagus?
Pedestrian memiliki fungsi yang sangat strategis untuk membentuk wajah kota. Trotoar yang lapang dan beradab, dipastikan bisa membuat pejalan kaki senang melaluinya. Bila banyak orang yang berjalan kaki, tentu pengguna kendaraan berkurang. Bila kendaraan berkurang, jalanan pun tidak sesak. Sebagai bandingan lain, di Jepang, penduduknya sudah terbiasa berjalan kaki untuk pergi ke tempat kerja, bila jaraknya hanya sekitar 2 kilometer.
Di sisi lain, pedestrian juga bisa meningkatkan pendapat dari sektor pariwisata. Analisanya, bila banyak orang yang jalan kaki, kesempatan dia untuk melihat-lihat barang dagangan di etalese toko, akan lebih banyak. Apalagi kalau di tempat-tempat tertentu dibangun pula semacam coffee shop atau tempat nongkrong yang nyaman, bukankah orang-orang akan suka berjalan kaki dan bakal mendatangkan untung bagi sang pedagang? Bukankah dengan pola seperti ini berarti kita menciptakan jenis objek wisata baru; jalan sambil jajan?
Di sepanjang jalan Kualalumpur, hampir semua coffee shop pinggir jalan dipenuhi pengunjung. Apalagi, tempat minum itu tidak tertutup pagar, langsung berada di sisi trotoar yang bersih dan praktis untuk disinggahi.
Saya pikir, kalau Pemko Pekanbaru (tentu saja bekerja sama dengan Pemprov Riau) mulai berpikir membangun pedestrian, saya yakin perlahan namun pasti persoalan jalanan yang crowded akan terpecahkan. Sekaligus, pemerintah akan berhasil menciptakan sebuah objek wisata yang manusiawi dan murah meriah.***
Bagaimana Malaysia menjual barang-barang produksinya? Pertanyaan ini patut mengemuka. Soalnya, warga Indonesia, termasuk Riau, tampak begitu suka berbelanja ke sana. Hampir sepanjang tahun, sepanjang pelosok Malaysia dibanjiri warga Indon, sebutan mereka untuk warga Indonesia. Pusat belanja, objek wisata sampai hotel-hotel, penuh. Bahkan, rombongan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau hampir saja tidak mendapat hotel tempat menginap. ‘’Untung dipesan jauh-jauh hari,’’ kata Tien Marni.
Bagaimana dengan Malaysia? Negara Datuk ini memang sengaja menyiapkan sebuah objek wisata khusus even, yaitu wisata belanja. Program big sale (penjualan besar-besaran) pun diluncurkan. Di berbagai pusat perbelanjaan, dipampangkan logo yang menyatakan bahwa Malaysia sedang ada program penjualan besar-besaran. Logo dan iklan itu tidak hanya dipampang di Malaysia, melainkan sampai ke negara-negara tetangga dan negara maju lainnya.
Soal harga? Tergantung produk yang dijual, atau siapa yang menjual. Ada yang memang di bawah harga normal dan ada pula yang tetap pada harga normal. Hanya saja, karena perbedaan kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia, kadang-kadang menimbulkan anggapan bagi orang dari Indonesia bahwa barang yang dijual harganya sedikit di atas normal. Namun demikian masih banyak produk yang dijual di Malaysia lebih murah dibandingkan harga di Indonesia.
Kualalumpur juga dilengkapi berbagai restoran atau rumah makan beragam selera dan menu. Jika mau yang lebih berkesan, makan malam di restoran dengan ketinggian lebih dari 300 meter bisa dijadikan satu pilihan.
Rumah makan berputar di menara Kualalumpur (menara KL), menara antena telekomunikasi tertinggi negara, merupakan hal yang mengasyikkan. Rombongan yang dibawa makan di restoran itu berkesempatan melihat kota Kualalumpur dari ketinggian. Beberapa orang yang pernah makan di situ mengatakan makan pada malam hari lebih menyenangkan karena bisa melihat keindahan malam kota dengan berbagai gemerlap lampu, apalagi menara itu letaknya dekat dengan gedung kembar Twin Tower yang terkenal itu.
Maka tidak heran jika tarif sekali makan per orang berbeda antara siang dan malam. Untuk siang RM60 dan malam RM80. Artinya, jika dirupiahkan, maka sekali makan di atas seharga Rp135.000 hingga Rp145.000 untuk siang dan Rp180.000 hingga Rp200.000 untuk malam tergantung besar fluktuasi rupiah.
Apa yang dikatakan Mustafa tidak meleset. Berbagai menu disajikan baik ala masakan selera umum maupun masakan Cina. Kata Mustafa, jangan makan banyak-banyak untuk satu menu, kalau mau mencicipi menu yang lain.
Saya teringat dengan Jakarta Great Sale. Selama sebulan penuh tiap tahun, Jakarta menggelar pesta diskon. Hampir semua pusat perbelanjaan, ikut dalam program ini. Gerai-gerai di mal dan plaza Jakarta, secara serentak menggantung pamflet diskon. Mulai hanya 10 persen, sampai besar-besaran hingga 80 persen.
Hasilnya? Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Mal Karawaci, Mal Ciputra, Mal Taman Anggrek hingga plaza-plaza kelas menengah lainnya, dipenuhi pengunjung. Tentu, selain hanya memilih dan memilah, kebanyakan mereka akan membeli.
Tak cukup dengan Jakarta Great Sale, di Ibu Kota Indonesia ini juga terkenal dengan berbagai pesta rakyat, yang masih berhubungan dengan wisata belanja. Sebut saja Festival Kemang yang banyak dinanti-nanti itu. Begitu juga pasar malam Jalan Jaksa. Bila festival dan pasar malam itu sudah dibuka, hampir semua turis, berbondong-bondong ke sana. Khusus untuk Kemang, sebagian turis malah sengaja menetap di sana. Di rumah-rumah penduduk yang jauh dari kesan glamour Jakarta.
Mengapa mereka senang berada di tengah permukiman warga kebanyakan itu? Bukan di hotel? Tampaknya Jakarta terus berusaha menggabungkan sistem pariwisata jajan dan jalan. Di sepanjang Jalan Jaksa dan Kemang, kawasan yang diciptakan memang diusahakan jauh dari kebisingan kendaraan umum. Bila Anda ingin masuk ke Jalan Jaksa, cukup berjalan kaki atau naik motor saja. Bila membawa mobil, bisa dipastikan kendaraan Anda tidak akan ikut serta masuk.
Setiap sore atau pagi, kita akan menemukan puluhan orang asing berjalan-jalan di tempat ini. Atau, kita akan sering mendengarkan sapaan tilu ‘’selamat pagi’’ atau ‘’selamat sore’’ dari turis mancanegara yang duduk-duduk santai di serambi rumahnya. Jumlah para turis ini akan lebih banyak bila malam tiba. Mereka menyerbu penjual jajanan di sepanjang kawasan itu. Mulai ketoprak, soto Betawi, es dawet atau juga kerak telor. Ya, makanan kampung.
Sedangkan Kemang, kawasan ini dikenal sebagai kota dengan bangunan tua. Ratusan rumah di sana kebanyakan berumur di atas 100 tahun. Uniknya, pemerintah sangat melarang merusak bangunan tua itu. Bahkan, Pemprov DKI tidak segan-segan mengusut seorang pejabat tinggi bila mencoba merusak bangunan tua , sekalipun itu rumahnya sendiri. Perlu izin khusus bagi seseorang bila ingin memugar rumahnya, termasuk bila hanya sekadar memperbaiki dapur.
Kapan Pekanbaru mengikuti jejak langkah Malaysia dan Jakarta? Sudah siapkah kita mempertahankan bangunan-bangunan tua yang masih ada itu agar tetap seperti aslinya? Siapkah kita menyembahkan kepada para tetamu sebuah kawasan yang tidak bising, jalanan yang lapang dan jajanan yang memang khas?***

Selengkapnya...

catatan lepas

Menjual Riau Satu Paket

Dengan darah dan airmata, saya akan berjuang mempertahankan tanah dan bangsa tempat darah bunda tertumpah ketika melahirkan saya.
Bagai naga, negeri bernama Riau ini terus menggeliat. Laju pembangunan gedung, jalan dan segala fasilitasnya, mengundang kagum. Tingkat konsumtif masyarakatnya, juga menimbulkan decak. Negeri perburuan ini, kini memang sedang berpesta.
Tapi, tunggu dulu. Siapa yang sebenarnya sedang menikmati berpesta? Pemburukah, atau penduduk yang sebenarnya pemilik barang-barang buruan itu? Sampai sejauh mana masyarakat bisa menikmati mewahnya negeri ini?
Pertanyaan menusuk seperti ini, sudah sekian lama menikam-tusuk jantung masyarakat Riau. Negeri perburuan ini tidak ubah bagai hidangan yang habis dikunyah, dimamah dan dicomot sana dan sini. Yang tersisa hanya tulang belulang, dan sendawa orang yang kekenyangan.
Lalu, haruskah kita ‘’melayu’’? Atau, apakah kita mesti melakukan amuk untuk menunjukkan bahwa kita ini ada? Bagaimana pula kalau saya mengusulkan agar Riau ini terus kita jual, bahkan dalam satu paket saja? Dalam artian, sekali menjual, terjuallah semuanya?
Tunggu. Konsep menjual saya berbeda dengan terjualnya Riau di masa lalu. Bila dulu yang beruntung hanya pemburu, saya ingin yang beruntung itu kini juga pemegang ‘’hak milik’’ atas hasil buruan itu.
Tapi, mengapa mesti satu paket? Selama ini, kita cenderung menjajakan Riau secara parsial. Dinas Pariwisata berpromosi sendiri-sendiri, Dinas Pendapatan pun begitu. Pemilik hotel dan para pengusaha, juga mencari dan menjual produknya nafsi-nafsi. Sampai yang kecil-kecil seperti pengusaha rotan, kue kering atau lainnya, selalu mencoba mencari celah pasar tanpa dibantu orang lain.
Mengapa kita tidak menjual Riau ini satu paket sekaligus? Mengapa lembaga pemerintahan, lembaga perekonomian, lembaga pendidikan, sampai pengusaha besar dan kecil, tidak bahu-membahu? Sama-sama berjuang untuk sebuah penjualan kolektif?
Lalu, saya teringat pada helat besar tahun lalu; Festival Budaya Melayu Sedunia. Ketika itu, Pekanbaru kedatangan ratusan tamu dari mancanegara. Selain kedatangan mereka untuk acara budaya, mereka juga datang untuk jalan-jalan, menikmati masakan Pekanbaru, tempat pelancongan dan oleh-oleh dari Kota Bertuah ini. Hotel pun penuh, Alam Mayang dan Danau Buatan pun jadi ramai. Pusat perbelanjaan juga mendapat pembeli tambahan. Supir taksi? Ya, mereka juga ketiban durian runtuh. Bahkan, Pekanbaru sendiri berkesempatan meluncurkan program City Tour.
Tidak inginkah kita mengulang kisah sukses itu? Sepertinya kita mesti berkaca pada negara tetangga Malaysia. Negara Datuk ini memang sengaja menyiapkan objek wisata khusus even. Mereka menyebutnya wisata belanja. Dilangsungkan tiga kali dalam setahun. Ada program big sale yang jadi maskot. Di berbagai pusat perbelanjaan, dipampangkan logo yang menyatakan bahwa Malaysia sedang ada program penjualan besar-besaran. Logo dan iklan itu tidak hanya dipampang di Malaysia, melainkan sampai ke negara-negara tetangga dan negara maju lainnya.
Jakarta pun begitu. Mereka punya even bulan kunjungan wisata. Isinya, juga ada Jakarta Great Sale. Selama sebulan penuh tiap tahun, Jakarta menggelar pesta diskon. Hampir semua pusat perbelanjaan, ikut dalam program ini. Gerai-gerai di mal dan plaza Jakarta, secara serentak menggantung pamflet diskon. Mulai hanya 10 persen, sampai besar-besaran hingga 80 persen.
Hasilnya? Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Mal Karawaci, Mal Ciputra, Mal Taman Anggrek hingga plaza-plaza kelas menengah lainnya, dipenuhi pengunjung. Tentu, selain hanya memilih dan memilah, kebanyakan mereka akan membeli.
Seiring dengan bulan wisata itu, Jakarta juga mengadakan berbagai pesta rakyat. Sebut saja Festival Kemang yang banyak dinanti-nanti itu. Begitu juga pasar malam Jalan Jaksa. Bila festival dan pasar malam itu sudah dibuka, hampir semua turis berbondong-bondong ke sana. Khusus untuk Kemang, sebagian turis malah sengaja menetap di sana. Di rumah-rumah penduduk yang jauh dari kesan glamour Jakarta.
Apakah Riau tidak bisa berbuat seperti Malaysia dan Jakarta? Bisa kok. Saya pikir, Riau punya beragam even besar yang bisa dijual. Sebut saja Pacu Jalur Telukkuantan, Pacu Sampan Antarbangsa di Buluh Cina, Mandi Balimau dan Hari Raya Puasa Enam di Kampar. Atau, mengapa kita tidak sengaja menciptakan sebuah bulan wisata saja?
Agar acara besar kita itu kelihatan lebih besar, bukankah akan lebih baik kalau dikemas dalam satu paket yang lebih wah, meriah dan murah? Contohnya, ketika pesta pacu jalur di Telukkuantan pada bulan Agustus, pemerintah mengumumkan bahwa Riau sedang berpesta. Dalam paket ini dimasukkan pula pesta diskon besar-besaran di mal dan plaza, harga khusus kamar hotel, pelayanan penuh senyum di bandara dan pelabuhan, kemudahan mencari toilet di sepanjang jalan lintas, kemudahan mencari makanan tradisional dan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dan lain sebagainya.
Jadi, yang untung bukan hanya masyarakat Telukkuantan. Mal dan plaza di Pekanbaru juga ketiban rezeki, biro travel juga banyak pelanggan, pedagang kecil lebih bisa bernafas. Okupansi di hotel penuh, jasa penerbangan semakin bergairah, dan lain sebagainya.
Bukankah ini juga berarti kita membuat sebuah paket hemat (bagi kita), tapi meriah dan wah (dan tetap mewah-meriah) bagi para turis? Ya, hitung-hitung seperti paket two in one, three in one atau ten in one-lah.***






























Mengapa mereka senang berada di tengah permukiman warga kebanyakan itu? Bukan di hotel? Tampaknya Jakarta terus berusaha menggabungkan sistem pariwisata jajan dan jalan. Di sepanjang Jalan Jaksa dan Kemang, kawasan yang diciptakan memang diusahakan jauh dari kebisingan kendaraan umum. Bila Anda ingin masuk ke Jalan Jaksa, cukup berjalan kaki atau naik motor saja. Bila membawa mobil, bisa dipastikan kendaraan Anda tidak akan ikut serta masuk.
Setiap sore atau pagi, kita akan menemukan puluhan orang asing berjalan-jalan di tempat ini. Atau, kita akan sering mendengarkan sapaan tilu ‘’selamat pagi’’ atau ‘’selamat sore’’ dari turis mancanegara yang duduk-duduk santai di serambi rumahnya. Jumlah para turis ini akan lebih banyak bila malam tiba. Mereka menyerbu penjual jajanan di sepanjang kawasan itu. Mulai ketoprak, soto Betawi, es dawet atau juga kerak telor. Ya, makanan kampung.
Sedangkan Kemang, kawasan ini dikenal sebagai kota dengan bangunan tua. Ratusan rumah di sana kebanyakan berumur di atas 100 tahun. Uniknya, pemerintah sangat melarang merusak bangunan tua itu. Bahkan, Pemprov DKI tidak segan-segan mengusut seorang pejabat tinggi bila mencoba merusak bangunan tua , sekalipun itu rumahnya sendiri. Perlu izin khusus bagi seseorang bila ingin memugar rumahnya, termasuk bila hanya sekadar memperbaiki dapur.
Kapan Pekanbaru mengikuti jejak langkah Malaysia dan Jakarta? Sudah siapkah kita mempertahankan bangunan-bangunan tua yang masih ada itu agar tetap seperti aslinya? Siapkah kita menyembahkan kepada para tetamu sebuah kawasan yang tidak bising, jalanan yang lapang dan jajanan yang memang khas?

Selengkapnya...

Senin, 07 Januari 2008

Feature

Upaya Telkomsel Melayani Masyarakat Pinggiran
Buka Isolasi, Bahu Siap Pikul Besi

Kata sahibul hikayat, suatu kali seorang bapak di Concong, sebuah kawasan pinggir di Indragiri Hilir, pulang dari Pekanbaru dengan gembira. Di tangannya tergenggam sebuah handphone yang kemarin siang dibelinya di Pekanbaru. Dia bangga, dan ingin menunjukkan alat ajaib itu kepada keluarganya. Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba hilang. Karena, ketika dia coba menghubungi keluarganya yang di Tembilahan dengan handphone itu, tak terdengar suara apa-apa kecuali suara tut… tut… tut…
’’Bedigul betul orang Pekanbaru ni. Jual hape rosak rupanya die,’’ umpatnya.
Dia merasa tertipu. Petang itu juga dia berangkat ke Pekanbaru. Di toko tempatnya membeli ’’HP rusak’’ itu, dia langsung marah-marah. Memaki hamun. Dia mengaku telah ditipu karena HP yang dibelinya tak bisa dipakai. Malah sampai pula niatnya untuk mengadu ke polisi. Entah iya entah tidak.
’’Dikau nak tipu aku ye? Dikau kasih aku hape rosak. Dikau cakap aku tak sanggup beli hape mahal, hah!’’ sergahnya.
Gadis penjaga konter itupun bingung. Bagaimana tidak, setelah memeriksa handphone yang dikomplain sang Bapak tak ada yang rusak. Dicoba menghubungi seseorang, bisa. Sekarang giliran sang bapak yang bingung. Namun dalam pembicaraan selanjutnya terungkap juga bahwa di Concong memang belum ada sinyal sama sekali. Jadi, patutlah penyelanta itu tak berfungsi.
’’Ooo… di Concong tu belum ada sinyal, Pak. Harus ada sinyal dulu baru bisa gunakan handphone ni,’’ kata si gadis penjaga konter handphone.
’’Dikau cakaplah dari kemarin. Kalau macam tu, aku belilah sinyalnya agak tiga buah. Siapa tahu nanti hilang pula waktu aku ke kebun ngambil kelapa. Tak mungkin aku tiap bulan ke Pekanbaru ni beli sinyal baru,’’ kata sang Bapak serius. Dia tak marah lagi.
Si gadis penjaga konter melongo.
***
Bagi orang-orang yang bekerja di dunia jasa telekomunikasi, cerita seperti di atas sebenarnya banyak versi. Masih banyak cerita lain yang lebih seru, khas kisah-kisah sahibul hikayat. Sebagian besar adalah kisah nyata yang merupakan pengalaman mereka di lapangan. Maklum, membandingkan masyarakat gagap teknologi dengan serbuan teknologi tingkat tinggi seperti handphone, tentu saja akan menciptakan pernik kisah yang menggelikan hati.
Kehadiran handphone sampai jauh ke pelosok tak tersentuh telah menjadi fenomena yang tak terbayangkan sebelumnya. Dia telah menjadi gurita super yang mampu menelusup hingga jauh ke daerah yang selama ini tak terjamah. Siapa yang bisa membayangkan suatu daratan yang tak pernah dilindasi ban mobil, tak ada pembangunan memadai, masyarakatnya masih sangat kolot, namun ternyata mereka sudah melek teknologi? Siapa yang bisa membayangkan kalau di daerah yang terisolir karena ketiadaan infrastruktur jalan, ternyata mendapat infrastruktur komunikasi yang mapan? Ya, sekarang bukan lagi sebuah kemustahilan kalau seorang jejaka di pedalaman kebun Ujung Batu berkirim SMS cinta dengan pacarnya di Pekanbaru, atau seorang gadis ABG di pedalaman Indragiri Hilir suka men-down load lagu-lagu terbaru Britney Spears atau Agnes Monica.
Di tengah pembaruan budaya itu pula, Telkomsel hadir di Indonesia. Satu-satunya penyedia jasa GSM yang hadir pertama kali bukan di Jakarta ini, telah berada di garis terdepan dalam membuka daerah-daerah terisolir lewat jaringan komunikasi. Mereka melayani masyarakat di hampir semua tempat dengan segala macam kepentingan.
’’Kami sudah banyak membuka isolasi daerah-daerah terpencil. Walau mereka tak terhubung lewat jalan darat, namun mereka bisa berhubungan lewat sinyal handphone,’’ kata Manajer Grapari Telkomsel Riau Zulfikar.
Saat ini, menurut Zulfikar, mereka hampir melayani 100 persen wilayah kecamatan di Riau. Hanya sekitar 10 persen saja daerah yang belum dijangkau sinyal Telkomsel. Selain daerah yang 10 persen itu, pengguna kartu Halo, Simpati, dan As, sudah bisa menikmatinya dengan sangat tenang dan senang.
Soal melayani sampai ke pelosok tak tersentuh itu, Telkomsel memang punya target manis. Menurut Zulfikar, mereka ingin memberikan hadiah spesial saat ulang tahun ke-58 Riau pada awal Agustus 2006 nanti. Tentu saja bukan hadiah berupa barang atau karangan bunga. Hadiah yang ingin mereka persembahkan adalah coverage sinyal Telkomsel berhasil membuka daerah-daerah terisolir di Riau. Paling tidak, semua kecamatan yang ada di Riau ini, sudah mempunyai jaringan Telkomsel.
’’Selain menjadi hadiah bagi ulang tahun Riau, keberhasilan itu nantinya juga menjadi hadiah ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia,’’ kata Zulfikar.
Keberhasilan membuka daerah terisolasi dengan jaringan sinyal handphone untuk Riau, menurut Zulfikar, sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Riau pengentasan kemiskinan dan kebodohan dan pembangunan infrastruktur (K2I). Telkomsel memandang, keberadaan infrastruktur komunikasi telah menjadi salah satu kunci bagi pembangunan suatu daerah. Artinya, jika di daerah itu sudah ada jaringan komunikasi selular, tentu akan mendorong pertumbuhan daerah itu sendiri, termasuk dari segi aktivitas ekonomi dan investasi.
Lalu, Zulfikar memberikan contoh. Katakanlah di suatu daerah yang cukup terpencil memiliki sebuah sumber daya alam yang siap dikembangkan. Hanya saja, karena lokasi itu tidak terjangkau infrastruktur jalan, seorang investor akan enggan datang ke sana. Bagaimanapun, mobilitas pekerjaan mereka mengharapkan ada komunikasi dengan pihak lain di tempat lain.
Nah, persoalan investor ini akan terjawab bila tersedia jaringan komunikasi. Seorang investor, atau pengawas lapangan, atau bisa saja seorang karyawan biasa, tidak akan merasa terbuang di sebuah pulau bila dia masih punya kesempatan untuk berbicara dengan keluarga dan koleganya lewat telepon seluler, atau ber-SMS ria dengan orang yang disayanginya.
’’Dengan komunikasi, urusan jadi lancar dan mereka tidak merasa seorang diri di tempat terpencil,’’ kata Zulfikar.
Zulfikar menyadari betul, untuk melayani daerah terpencil sering kali tidak menguntungkan dari sisi bisnis. Maklum, grafik pemakaian handphone di sana memang tidaklah terlalu menjanjikan. Namun begitu, pada persoalan ini Telkomsel lebih mementingkan sisi nasionalis dan humanisnya, bukan persoalan untung dan rugi. Lagi pula, 65 persen saham Telkomsel masih milik PT Telkom, yang berarti juga punya visi dan misi sesuai pemerintah.
’’Anggaplah misalnya tak ada pengguna di situ, kita pun tak perlu merasa rugi. Rugi pun, kita bisa subsidi silang dari yang lain. Yang terpenting, misi ikut membangun sarana komunikasi itu jalan. Suatu saat, kawasan yang terbuka oleh infrastruktur komunikasi, akan lebih mudah berkembang,’’ kata Zulfikar.
Untuk diketahui, kata Zulfikar, di antara sekian banyak operator seluler, saat ini Telkomsel menguasai 54 persen market produk kartu selular se-Indonesia. Sementara untuk di Sumatera saja, mencapai lebih dari 70 persen. Khusus untuk di Riau, Telkomsel mengusai pasar sebanyak 80 persen. Dari jumlah itu, 90 persen di antaranya adalah kartu prabayar, baik Simpati maupun Kartu AS. Sisanya yang 10 persen, adalah Kartu Halo (pascabayar).
***
Sekali lagi, selama ini sinyal telepon seluler selalu menjadi barang mahal di wilayah pinggiran, apalagi daerah terisolir. Lalu, siapa sebenarnya yang berjasa menghadirkan sinyal di daerah-daerah marjinal itu?
Ketika hal ini ditanyakan kepada Zulfikar, dia langsung menunjuk Herbert Siregar. Dia adalah Supervisor Project Sumbagut Telkomsel. Herbert dan timnya telah bersusah payah menghadirkan sinyal agar bisa melayani keinginan warga. Ketika ditanya Riau Pos, Herbert agak sungkan dibilang paling berjasa. Karena, yang dilakukannya bersama tim hanyalah untuk melayani masyarakat tanpa embel-embel ingin dikenang jasanya.
Kepada Riau Pos, Herbert banyak bercerita betapa ganasnya daerah pesisir Riau dan kawasan yang terisolir lainnya untuk ditaklukkan. Beberapa lokasi tempat mereka memancangkan BTS, bahkan tidak mempunyai jalan yang bisa dilalui kendaraan sejenis mobil.
’’Untuk membawa bahan ke lokasi pembangunan BTS, terkadang kami harus memikul di bahu dalam jarak jauh. Namun karena ini semangat untuk membangun jaringan infrastruktur komunikasi, kita tetap bersemangat,’’ kata Herbert.
Sekadar menyebutkan, wilayah yang sulit ditumbangkan itu tersebar di sepanjang Indragiri Hilir, Ujungbatu, Kuala Kampar, Tanjung Medang, Rupat, dan lainnya. Sebagai catatan, kata Herbert, kesulitan yang mereka hadapi bukan saja menaklukkan keganasan alam. Sering kali faktor nonteknis ikut serta juga. Katakanlah, oknum-oknum aparat yang mempersulit, atau orang-orang bagak yang memajak.
’’Kalau dipikir sulitnya, memang membuat batin terpukul. Namun bila BTS sudah hadir, dan kita melihat traffic penggunaan handphone mulai bergerak, beban yang berat itu serasa hilang seketika,’’ kata Herbert.
Telkomsel memang semakin dekat dan semakin nyata. Orang-orang yang berjasa menghadirkan sinyal di daerah pelosok itu, juga sudah dapat menarik nafas lega. Diharapkan, dengan perkembangan ini, tidak akan pernah lagi ada seseorang, katakanlah dari Concong, datang ke Pekanbaru setiap bulan hanya sekadar untuk membeli sinyal sepotong dua.***

Selengkapnya...

Feature

Di Laut Kita Kalah

Perbantahan itu sudah terlalu lama. Darah tumpah, kapal pecah, dan nyawa pun sudah menjadi semah. Masih mau menunggu apa?

Penghujung petang yang cerah, Kamis, 24 April 2006. Riak laut Telukpambang, Bengkalis, keperak-perakan ditimpa sisa raja siang. Ratusan kapal kecil milik nelayan rawai, nampak terombang-ambing tertambat tak jauh dari bibir pantai. Beberapa lelaki nampak membuat tumpukan kayu. Menyiramnya dengan minyak, menyulutkan api, dan remang petang perlahan dijilat lidah api yang benderang.
Seseorang membawa ikan kurau ke dekat api unggun. Ikan itu masih segar ketika disisik, masih menggelepar saat perutnya dibelah. Dan, ikan yang menjadi buah bibir itu pun membiaskan harum semerbak saat terpanggang di dalam apitan pelepah kelapa. Mereka pun bersorak. Sebagian kaum wanita bernyanyi dan menari. Inilah pesta kecil nelayan di tepi pantai. Sebuah pesta untuk menghibur hati yang terluka.
Terluka? Nampaknya ini masih belum cukup menggambarkan suasana hati mereka. Empat hari sebelum pesta kecil itu, kapal milik M Ali (32) pecah ditabrak kapal milik nelayan jaring batu. Yang tertinggal hanyalah tudungnya saja. Tak cukup kapal yang pecah, M Ali dan dua rekannya Burhan dan Majid yang saat itu sedang mencari umpan untuk merawai, juga remuk dipelasah para nelayan jaring batu.
Kejadian ini membangkitkan kembali luka masa lama yang berderet seperti mata kail di tali rawai. Selama 23 tahun, mereka terbabit dalam sebuah konflik yang tak berkesudahan dengan nelayan jaring batu. Nelayan rawai yang bermarkas di Bantan tidak mengizinkan jaring batu beroperasi di ’’laut mereka’’ dari Tanjungjati ke Tanjungsekodi. Sementara nelayan jaring batu yang bermarkas di Rangsang, Tanjungbalaikarimun, Kedaburapat, dan beberapa tempat lainnya, tetap bersikukuh ingin melaut di sana.
Sampai pertengahan tahun 2006, sudah lebih dari seratus kali mereka bertelagah di tengah laut, perang mulut di meja perundingan, atau adu argumen di mata hukum. Sudah tak terbilang seberapa banyak darah yang tumpah, tangan yang patah, telinga yang koyak, kepala yang dibelah, kapal nelayan rawai yang pecah, kapal nelayan jaring batu yang dibakar, rawai yang ditetas, dan jaring batu yang jadi abu. Puncak semua itu terjadi Kamis (15/6) lalu, ketika Sodiq alias Kacam alias Syamsul Bahri bin Karim (33), warga Desa Tanah Merah Kecamatan Rangsang Barat, menemui ajal. Dia dipancung oleh sekelompok orang yang diduga kuat nelayan rawai. Kepalanya ditemukan terapung, sementara jasadnya disapu ombak dan baru ditemukan empat hari kemudian oleh nelayan Kedaburapat.
***
Konflik ini sudah terlalu lama. Bagi nelayan rawai yang sering disebut nelayan tradisional, kisah pedih ini telah mengubah ritme kehidupan warga yang menggantungkan hidup di garis laut Tanjung Jati ke Tanjung Sekodi ini, menjadi lebih keras. Irama perang dan amis darah seakan sudah menjadi hal yang sangat biasa. Mereka benar-benar tegas dalam bersikap. Sekali menolak jaring batu sejak tahun 1983, suara itu tidak pecah hingga sekarang. Karena keteguhan sikap itu pula, Desa Parit Tiga Teluk Pambang sering dijuluki sebagai ’’Aceh Kedua’’. Bagaimana tidak, warga sempat menghadang kedatangan rombongan Kapolres Bengkalis beberapa waktu lalu dengan panah-panah beracun.
Konflik ini ikut pula yang membuat ekonomi mereka jalan surut. Maklum, konflik ini telah menghadirkan ketidaknyamanan dalam melaut. Kadang, beberapa pekan mereka tak melaut karena takut diburu nelayan jaring batu. Bila tak melaut, dapur pun tak berasap. Dan, utang pun akan menggunung di kedai-kedai.
Ikutilah penuturan Sidah, istri nelayan Rasyid kepada Riau Pos beberapa waktu lalu:
’’Kalau bapak turun ke laut dan tak dapat ikan, itu tandanya nelayan jaring batu sudah masuk duluan. Bila mereka sudah masuk, ikan itu habis disepah mereka. Kita jangankan dapat ikan kurau, dapat ikan seekor pun kadang payah. Sekarang hutang di kedai menumpuk. Kadang kami sampai dua tiga hari makan rebus pisang muda. Untuk anak-anak kami yang masih kecil, terpaksa kami parutkan ubi kayu dan dikukus. Datanglah ke rumah kami yang sudah lapuk itu. Kalau hujan tiris, selimut dan kasur pun berkepam. Tak ada perabot barang sepatah pun.
Tak banyak pinta kami. Yang penting jaring batu tu jangan dipakai di sini. Kalau nak melaut, pakai saja rawai macam yang kami pakai. Kalau nak pakai jaring batu juga, jangan gunakan itu di laut kami; mulai dari Tanjungjati sampai ke Tanjungsekodi. Ini adalah kebun kami untuk menyambung kehidupan…’’
Apa yang diungkapkan Sidah, sesungguhnya telah menjadi representasi keresahan seluruh masyarakat. Seperti yang disaksikan Riau Pos, Rabu (21/6) di Desa Parit Tiga Pambang, hampir seluruh kapal kecil mereka tambat di tepi pantai. Tak ada yang melaut. Jaminan keamanan, terutama setelah kejadian pemancungan kepala itu. Di darat pun, sesungguhnya mereka dicekam ketakutan yang luar biasa. Setiap hari, ada puluhan orang yang diduga intel keluar masuk kampung mencari siapa saja yang bisa dianggap sebagai tersangka pembunuhan itu.
***
Sekali lagi, konflik ini sudah berlaku sangat lama. Sebenarnya, apa yang melatarbelakangi sikap keras warga Bantan?
Sidiq, salah seorang tokoh masyarakat di Telukpambang lalu berkisah. Menurutnya, hanya satu alasan mereka menolak kehadiran jaring batu; yaitu untuk keselamatan dan masa depan laut. Bagaimanapun, kata Sidiq, laut adalah ladang pencaharian. Bila ini tidak dipelihara, laut itu akan rusak dan tidak akan menghasilkan. Bila laut sudah mandul, tentu saja asap daput tidak akan mengebul.
Dan, jaring batu dipercaya sebagai salah satu penyebab rusaknya alam. Sidiq mengatakan bahwa mereka sebagai nelayan tradisional memang tak pernah melakukan studi khusus tentang lingkungan. Namun mereka dapat merasakan, bila nelayan jaring batu sudah datang, ikan kurau pun hilang. Bila pengoperasiannya sudah berlangsung dalam waktu lama, ikan mahal pengganti ikan terubuk itu akan semakin hilang dalam waktu lama.
’’Kami tidak ingin kisah musnahnya ikan terubuk akan berulang kembali. Dengan cara apapun, kami akan tetap melestarikan keberadaan ikan ini,’’ kata Sidiq.
Kisah tragis ikan terubuk memang membawa duka yang mendalam. Bukan hanya bagi masyarakat Bengkalis, namun juga dunia. Ikan mahal, indah, dan flamboyan itu hilang bersamaan dengan rusaknya perairan Bengkalis. Dan, ikan kurau kemudian menjadi alternatif setelah terubuk. Ikan yang dagingnya terasa enak dan renyah ini, memiliki harga jual yang paling tinggi dibanding ikan jenis lain. Di Singapura, ikan ini bisa berharga di atas Rp100 ribu per kilogramnya. Karena harga mahal ini pula, ikan kurau menjadi incaran semua nelayan.
Menurut Sidiq, sebenarnya mereka bisa saja menggunakan jaring batu. Bukan karena tak terbeli. Namun mereka memikirkan jauh ke depan. Kalau sekarang mereka gunakan alat tangkap itu, mungkin dua atau tiga tahun ke depan tidak akan ada lagi ikan kurau atau ikan lainnya yang berharga mahal. Lalu, mereka pun akan menganggur. Tak ada lagi warisan laut yang bisa mereka sisihkan untuk anak cucu.
’’Biarlah kami menggunakan rawai. Ikan yang makan pun jadi terpilih. Yang penting umur ikan itu bisa sampai lama,’’ kata Sidiq.
Sidiq mengatakan bahwa mereka sudah bersumpah tidak akan menggunakan jaring batu. Di dalam kesepakatan adat yang sudah berlangsung turun-temurun sejak tahun 1960, masyarakat di Bantan sudah menetapkan banyak pantangan. Pertama, tidak akan menggunakan alat tangkap yang bisa merusak laut. Kedua, tidak akan melaut pada hari Jumat. Ketiga, mengadakan semah laut setiap bulan Muharram.
Ketiga kesepakatan ini dianggap telah mampu menahan lajunya kerusakan laut di Bengkalis. Nah, ketika jaring batu datang dan tak mau menghargai kesepakatan ini, tentu saja nelayan rawai menunjukkan temberang.
’’Kami tak menolak kedatangan saudara-saudara nelayan dari manapun. Tapi kalau mau mencari ikan di tempat kami, pakailah alat tangkap yang biasa kami pakai,’’ kata Sidiq.
Soal kesepakatan ini, katanya, sudah disampaikan kepada semua pihak. Kepada pemerintah, pihak keamanan, dan pihak nelayan jaring batu itu sendiri. Sidiq mengakui bahwa kesepakatan itu bersifat lisan. Tidak tertulis.
’’Namun kesepakatan itu tak pernah dipedulikan,’’ kata.
***
Bagaimana pendapat nelayan jaring batu?
Kesepakatan ini tentu saja ditolak. Mereka tentu saja pantas bertahan dengan sikap itu. Karena, seperti yang disampaikan Koordinator sekaligus Juru Bicara Nelayan Jaring Batu Aziz Arika, tak ada satupun ketentuan perundangan yang melarang beroperasinya jaring batu. Selain itu, warga Bantan tidak berhak mengklaim bahwa laut dari Tanjungsekodi sampai Tanjungjati adalah laut milik mereka. Sebab, semua laut yang berada di garis teritorial Indonesia, adalah milik semua warga Indonesia.
Soal kerusakan lingkungan nampaknya Aziz punya alasan lain. Menurutnya, sampai saat ini belum pernah ada kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa jaring batu akan merusak lingkungan, apalagi terumbu karang.
’’Lagi pula, siapa pula yang bilang bahwa di laut Bengkalis ini ada terumbu karangnya?’’ kata Aziz.
Soal hati yang lepai, nampaknya Aziz punya catatan tersendiri. Menurut pria hitam manis ini, korban tidak hanya jatuh pada nelayan jaring rawai. Susahnya hidup tidak juga menjadi hegemoni nelayan tradisional tersebut. Sebab, nelayan jaring batu juga merasakan hal yang sama. Kalau cerita soal kerugian akibat pertelagahan ini, nelayan jaring batu punya serentet catatan lengkap. Baik secara kuantitas maupun kualitas, kerugian yang mereka derita jauh lebih besar. Kapal yang dibakar, jaring yang dijadikan abu, dan kepala warga nelayan jaring batu yang dipenggal, adalah bagian kecil kisah duka itu.
Saat ini, nelayan jaring batu juga tidak melaut. Di Rangsang, base camp nelayan jarring batu, masyarakat juga hidup dalam kesusahan.
’’Kita hanya ingin persoalan ini bisa diselesaikan secara hukum. Jangan berlarut-larut lagi,’’ kata Aziz.
Soal penyelesaian lewat jalur hukum ini, memang ceritanya jadi lebih menarik. Kedua belah pihak mengaku sudah puas berurusan dengan hukum. Namun laporan yang mereka buat, keluhan yang disampaikan, tak pernah mendapat tanggapan yang serius. Hampir semuanya mengendap di meja petugas.
’’Jangan biarkan kami terkatung-katung dengan masalah seperti ini. Apalagi, saat ini sudah ada jatuh korban jiwa. Ini harus diselesaikan secara serius,’’ kata Aziz.
***
Di balik semua konflik itu, ada satu hal yang sampai kini masih dipercayai nelayan Bantan. Bahwa, di laut yang mereka jaga itu, masih berdiam ’’makhluk-makhluk’’ yang harus dihormati. Siapa dia? Nampaknya mereka agak tertutup. Mereka tak ingin mengungkap siapa dan apa makhluk itu karena takut akan disalahgunakan oleh orang-orang yang berniat jahat.
Sekadar bocoran, di Tanjung Parit ada dua lelaki dan satu perempuan. Di bagian selatannya ada pula orang tiga beranak. Dua kelompok kecil orang halus inilah yang dipercaya masih menunggu Bantan. Setiap tahun, mereka diberi makan melalui acara Semah Laut yang diadakan setiap bulan Muharram.
Saat semah itu, disediakan dua jenis penganan. Satu penganan berisi tujuh hidangan laut yang nantinya akan ditaburkan di laut. Sedangkan satu penganan lain adalah tujuh hidangan yang dihidangkan untuk daratan. Hidangan itu berisi ayam, ikan, pisang, pulut, sirih dan pinang, rokok linting daun nipah 44 batang, dan lainnya.
’’Penunggu laut itu sampai kini masih peduli dengan masyarakat Bantan. Ketika terjadi kesusahan seperti sekarang, bala tentara mereka pun turun. Bahkan, ketika kita bercakap-cakap ini, mereka sebenarnya sedang melihat kita,’’ kata Sodiq.
***
Konflik nelayan jaring batu dan nelayan jaring rawai, tidak sebatas perbedaan kepentingan. Ada dendam lama yang sudah menjadi kesumat. Kalau pemerintah tak tanggap, tetap hanya sebatas rencana untuk mendamaikan, bukan tanpa alasan korban akan jatuh lagi.***

Selengkapnya...

catatan kehidupan

Selongsong Duka

Selama sepekan, saya bersama Pemimpin Redaksi Riau Pos Kazzaini Ks mengikuti perjalanan penting. Ada dua kawasan yang membuat saya meneteskan air mata. Pertama, ketika saya berada di antara reruntuhan bangunan akibat gempa di Bantul, dan kedua ketika saya menikmati sejuknya udara Puncak, Bogor, sembari menyaksikan Bang Kazzaini menerima hadiah sebagai pemenang Koran Masuk Sekolah Se-Indonesia.
Di Bantul, saya bisa menyaksikan kedahsyatan bencana alam. Rumah roboh, orang-orang hidup di tenda, dan makam-makam yang masih bertanah merah. Walau saya pernah menyaksikan yang lebih horor dibanding gempa di Bantul ini (saya pernah meliput kedahsyatan tsunami di Aceh, persis enam hari setelah kejadian, dan menyaksikan mayat berbelengkangan dan tersusun rapi seperti baris sepatu tentara), tetap saja pemandangan Bantul ini memberi rasa miris yang menyayat hati.
Sampai kini, masih terlalu banyak orang-orang yang memerlukan bantuan. Sebagian mereka memang sudah mendapatkan logistik lumayan. Ada pula yang mendapat bantuan perumahan, alat-alat kerja bangunan, dan bahan bangunan itu sendiri. Beberapa rumah nampak sedang dibangun permanen, semi permanen, atau hanya darurat. Namun saya menyaksikan sendiri, betapa bantuan yang mereka terima masih terlalu kurang dibanding keperluan mereka saat ini.
Buktinya, saat ini masih puluhan ribu orang hidup di tenda-tenda dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Beberapa penduduk di Pleret, Bantul, malah tidur di kandang kambing dan sapi. Ceritanya, sebelum gempa kandang di samping rumahnya adalah tempat kambing berlindung. Namun ketika gempa, dan rumahnya hancur, terpaksalah dia menggusur kambing kesayangannya dan tidur di sana anak-beranak.
Tak ada bantuan? Ada. Namun pekerjaan memang terlalu berat untuk diselesaikan. Mereka masih mengharapkan berbagai keajaiban dalam bentuk bantuan yang lebih banyak dari berbagai pihak. Mereka, tak mampu lagi meneteskan air mata hanya untuk sekadar meminta. Sekali lagi, rasa duka itu telah menusuk tikam jauh ke dalam jantung hati mereka. Saat inilah rasa senasib sepenanggungan sebagai manusia kita diuji.
Kedatangan saya dan Bang Kazzaini tentu bukan sekadar ingin bernostalgia dengan duka. Kami memang mengemban amanah penting dari pembaca; yaitu dalam rangka menyalurkan bantuan yang dihimpun dari Dompet Peduli Jogja hasil sumbangan pembaca Riau Pos. Tunggu dulu, sebenarnya belum menyalurkan, baru sebatas melakukan survei. Selama dua hari, kami melakukan survei untuk memastikan kawasan, orang, dan jenis bantuan yang akan disalurkan. Dengan melakukan survei ini, paling tidak sumbangan yang dihimpun dari pembaca Riau Pos akan tepat sasaran dan tepat jumlah.
Bantuan itu akan diserahkan secepatnya. Walau semua wilayah dan orang di Jogjakarta dan Bantul layak mendapatkan bantuan, namun kami mencatat ada beberapa kawasan yang harus dapat prioritas utama. Dan, bantuan dari pembaca itu akan kami serahkan secepatnya. Kalau bisa, pekan ini juga. Bantuan yang akan diserahkan itu berupa bahan material bangunan, alat pertukangan, bahan logistik, buku dan alat tulis, dan juga alat-alat dapur. Selain akan diserahkan lewat pemerintah, ada juga bantuan yang akan diberikan kepada fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah. Semoga, dengan bantuan ini, Jogja dan Bantul tidak akan menangis lagi.
Saudara, Indonesia memang sering disatukan dalam senandung duka. Negeri ini seperti selalu berjodoh dengan air mata. Musibah datang silih-berganti seperti berondongan senjata. Selonsong duka ini, jangan sampai semakin mengoyak hati kita. Mari bersatu padu untuk saling berbagi. Suai...***

Selengkapnya...

Catatan Kehidupan

Banjir Investasi dan Investasi Banjir

Mungkinkah investasi banjir dengan banjir investasi bisa sama-sama menguntungkan?
Pertanyaan ini sempat dilontarkan kawan melalui pesan pendeknya di handphone saya. Lalu, saya telepon dia.
‘’Ngkau jangan coba memancing di air keruh. Terlalu banyak periuk nasi orang yang akan tumpah,’’ kataku.
Dia pun bercerita kepada saya tentang dua frase yang semakin familiar saja belakangan ini. Menurutnya, banjir investasi sekarang ini sedang menjadi harap pinta bagi pemerintah dan masyarakat Riau. Kalau tak ada aral melintang, ratusan pengusaha akan berkumpul di negeri ini, mendengarkan penjelasan tentang potensi Riau, menjajaki kemungkinan berinvestasi, dan suatu saat akan mencurahkan uangnya di negeri ini. Kalau ini berhasil, nantinya masyarakat yang berdiam di bumi Riau akan tambah berlimpah uang.
‘’Awak tu lihatlah. Saat ini Riau seperti episentrum kekayaan. Mengaku sebagai orang Riau sama dengan mendeklarasikan diri kita sebagai orang kaya,’’ katanya.
Pernyataan teman saya itu sebenarnya banyak benarnya. Namun, dalam dua pekan ini saya mendapat kesempatan lagi berkunjung ke daerah-daerah di Riau. Beberapa kampung yang saya kunjungi, terlihat dengan jelas potret orang Melayu Riau yang sesungguhnya; hidup dengan kesederhanaan dan seperti putus asa dengan serbuan investasi yang tidak menguntungkan.
Ketika saya datang ke Kuantan Singingi, mengunjungi Kecamatan Inuman, Kuantan Mudik, dan Benai, tercetak dengan jelas betapa investasi yang hadir di sana tidak berhasil mengangkat taraf hidup masyarakat. Bahkan, kehadiran investor itu lebih banyak mendatangkan konflik dan kecemburuan sosial.
‘’Itu investor lintah. Dia akan datang dengan segenap nafsu ingin kenyang, begitu kekenyangan dia akan pergi begitu saja. Kita yang ditinggalkan akan dipenuhi darah dan kehabisan potensi masa depan,’’ kataku.
Lalu, akankah investor yang akan datang ke Riau pada 7-9 November 2007 itu menjadi investor lintah dan menambah deret panjang kekecewaan masyarakat Riau?
‘’Kalau hanya ingin mengisap dan menghabiskan potensi Riau, lebih baik tak datang. Biarlah potensi itu begitu adanya!’’ kataku lagi.
Dua hari setelah itu, dia mengirimkan pesan pendek lagi kepadaku.
‘’Pak Wali meninjau banjir di Rumbai, tapi tak mengunjungi pengungsi.’’
Saya tak segera membalas SMS-nya itu. Saya tahu, dia baru saja membaca dan melihat foto di Riau Pos yang memperlihatkan betis (bahkan juga paha) putih Pak Wali. Di Rumbai, Pak Wali nampak mengarungi air hampir setinggi lutut. Busana Melayu yang digunakannya telah menggambarkan betapa niat tulus Pak Wali untuk datang ke tempat musibah itu masih dipertanyakan.
Sebelum sebagian Rumbai terendam, beberapa daerah di Riau juga sudah kelelep terlebih dahulu. Di awal musim hujan ini saja, hampir semua sungai besar di Riau sudah meluap. Masyarakat pun hidup dalam kecemasan. Mereka berada di bawah bayang-bayang air yang siap menghantam. Bagaimana kalau sudah masuk puncak musim hujan yang diperkirakan pada bulan ini?
‘’Jangan terlalu risau, kawan. Banjir tidak selalu mendatangkan bencana dan sebungkah derita. Banjir bisa juga dijadikan sebagai investasi yang berharga,’’ kataku sejurus kemudian.
‘’Maksudnya?’’
‘’Jangan berlindung di balik ilalang sehelai, kawan. Semua orang sudah tahu bahwa di balik derita itu ada orang yang bahagia. Ya, paling tidak mereka punya media untuk berpromosi. Dengan membawa satu atau dua karton mi instan, serta naik sampan, mereka bakal populer dan berharap akan dipilih menjelang pemilihan mendatang,’’
Memang, investasi di Riau tidak mesti menjual hutan atau lautan. Banjir pun bisa menjadi investasi yang menggiurkan.
‘’Tapi jangan jadi investor lintah saja,’’ kata teman tadi.***

Selengkapnya...

Catatan Kehidupan

Lima Hari Tahun Baru

SELASA, 1 Januari 2008
Pertengahan malam pergantian tahun 2007-2008. Para pejabat enggan keluar rumah. Mereka mengurung diri di rumah dinas mereka yang megah. Katanya, perayaan tahun baru tidak mesti hura-hura. Lebih baik bermuhasabah sembari berzikir dan berdoa bersama semoga Indonesia Raya semakin jaya. Tak ada tiupan terompet dari mulut mereka. Tak ada aksi panggung artis Dorce Gamalama. Padahal di tahun-tahun sebelumnya mereka berderet-deret memegang terompet kertas sambil berhitung mundur menjelang pergantian tahun. Tret tet tet... sambil menyaksikan penyanyi dangdut menggoyang-goyangkan pinggul mereka.
Rupanya: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla juga melakukan hal yang sama.
Ternyata: Pejabat kita lebih takut kepada pimpinannya daripada kepada Tuhannya.
Rabu, 2 Januari 2008
Ini adalah hari pertama masuk kerja bagi pegawai pemerintah. Sejak tiga pekan di akhir tahun 2007, ruang-ruang bersekat di gedung pemerintah memang cenderung lengang. Pelayanan berjalan tidak sempurna. Kata mereka, ‘’tunggu tahun baru saja. Sekarang pegawai banyak yang cuti dan banyak tanggal merahnya.’’ Padahal, rakyat sudah menjerit. Gas langka, harga semen menggila, harga sayur selangit, kehidupan rakyat selalu sulit.
Rupanya: Di hari pertama ini masih banyak aparat pemerintah tidak masuk kerja.
Ternyata: Pemerintah tidak berdaya apa-apa ketika semua harga naik selangit dan sebagian harga hilang di kolong langit karena disembunyikan jin iprit.
Kamis, 3 Januari 2008
Berita buruk datang bertubi-tubi, menikam perasaan dan kedalaman hati. Mulai jamaah haji Riau yang terlantar di Madinah, Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Riau yang hanya Rp5,737 triliun, perpanjangan penahanan Bupati Pelalawan HT Azmun Jaafar 40 hari lagi, dan berita lainnya yang membuat hari Kamis mengundang bad mood.
Rupanya: Gubernur menganggap DIPA Riau tahun 2008 naik dibanding 20007.
Ternyata: DIPA Riau 2008 turun Rp29 miliar dibanding tahun 2007 yang dulunya Rp5,737 triliun. Dan ternyata lagi, angka Rp5,737 triliun sangat jauh dari harapan Riau yang menargetkan angka Rp24 triliun.
Jumat, 4 Januari 2008
Anak seorang pejabat penting Pemko Pekanbaru dihukum enam bulan penjara dengan masa percobaan 10 bulan. Perempuan yang baru berumur 17 tahun ini, divonis bersalah setelah melakukan penganiayaan terhadap teman sebayanya. Ya, ini mungkin sebuah pembelajaran kepada kita, bahwa anak pejabat tidak semena-mena melakukan tindakan tercela.
Rupanya: Perempuan yang dianiaya anak pejabat itu juga anak seorang pejabat, bahkan anak seorang mantan Kapolres. Andai yang dianiaya dia anak orang biasa...
Ternyata: Anak pejabat itu dituntut tujuh tahun penjara.
Sabtu, 5, Januari 2008
Saya sudah merencanakan liburan singkat yang menyenangkan. Namun ternyata akhir pekan ini Riau masih disapu kabut duka dan berita yang menimbulkan luka. Ada 400 kios yang terbakar di Pasar Belilas, Indragiri Hulu. Mantan pejabar Rokan Hulu, Ramlan Zas dan Syafruddin ditahan lagi, dan berita lainnya tentang cerita duka.
Rupanya: Kita harus menjalani tahun 2008 dengan penuh kehati-hatian. Kembalilah ke khittah sebagai manusia.
Ternyata: Masih ada berita menarik dan insya Allah akan mengundang bahagia; Riau Pos bekerja sama dengan Jawa Pos mengadakan DetEksi Basket League (DBL). Yap, kepada anak-anak muda di Riau, ketika Anda selalu membaca tingkah-polah orang-orang tua yang berlumur duka, mari kita tatap hari depan dengan warna kita sendiri yang penuh suka dan tanpa linangan air mata. Dunia ini milik kita! Selamat datang di basket liga!***

Selengkapnya...